Sabtu, April 25, 2009

Ibn Rusyd

Dia adalah Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Ahmad bin Ibn Rusyd ( 520 - 595 H. = 1126 - 1198 M.). Salah seorang filosof Islam terbesar, ahli ilmu kalam dan pembesar ulama mazhab Maliki yang mendalami ilmu fikih perbandingan antara mazhab-mazhab fikih Islam. Dia juga seorang tokoh ilmu kedokteran – baik dalam penulisan maupun dalam praktek kedokteran – dalam sejarah peradaban Islam. Terakhir, beliau adalah qadi yang mencapai derajat qadi al-qudat di Cordova – yang menyamai kedudukan menteri kehakiman di zaman sekarang.
Ibn Rusyd dilahirkan di kota Cordova, Andalusia (Spanyol – sekarang), keluarga yang mempunyai kedudukan tinggi dalam ilmu, fikih, peradilan, politik dan administrasi. Dia belajar ilmu kedokteran dan filsafat pada tokoh masa itu, di antaranya adalah Abu Ja’far Harun, Abu Marwan bin Jarbul al-Balansi, Ibn Bajah dan Ibn Tufail.
Dia menjabat sebagai qadi di Asbilia pada tahun 564 H. = 1169 M., kemudian menjabat sebagai qadi al-qudat Cordova pada tahun 566 H. = 1171 M. Ibn Rusyd menyaksikan akhir masa daulah Murabbitin (448 - 541 H. = 1056 - 1146 M.) dan awal masa daulah Muwahhidin (541 - 668 H. = 1146 - 1269 M.) yang memerintah Maroko dan Andalusia.
Pada saat berusia tiga puluh enam tahun, Ibn Rusyd mulai menulis dan mengarang. Orang-orang yang menulis sejarah hidupnya berkata: “sungguh Ibn Rusyd tidak meninggalkan membaca dan menulis - pada sisa umurnya – kecuali pada dua malam; malam pengantinnya dan malam saat bapaknya meninggal dunia.”
Dalam sejarah filsafat, Ibn Rusyd dikenal secara internasional, dengan proyeknya, membaca, memahami, dan mensyarah hasil karya filosof Yunani Aristoteles (384 = 322 S.M.). Dia memulai proyek filsafatnya ini, karena permintaan kerajaan dan Sultan Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf (555 - 595 H. = 1160 - 1199 M.) dan karena dorongan dari filosof Ibn Tufail (494 - 581 H. = 1100 - 1185 M.). Pada saat itu, terjemahan buku-buku Aristoteles sedikit dan tidak jelas tulisannya, sulit untuk dipahami. Ibn Rusyd bangkit memperbaiki bahasa terjemahannya dan mensyarahnya ke dalam 3 jenis syarah, yaitu: syarah yang ringkas, sedang dan besar. Dia secara luas dikenal sebagai pensyarah terbesar bagi Aristoteles. Syarah Ibn Rusyd telah membuka jalan bagi Eropa untuk mengetahui warisan Aristoteles dan filsafat Yunani. Ibn Rusyd memulai syarah Aristoteles pada tahun 564 H. = 1169 M., yaitu setelah dia menjabat sebagai qadi, dan setelah dia matang sebagai ahli ilmu kalam dan ilmu fikih, maka syarah Aristoteles tersebut berisi banyak kritik dan tambahan-tambahan darinya.
Sedang kreasi dan prestasi Ibn Rusyd dalam ilmu kalam terepresentasi dalam warisan pemikirannya, yaitu: tahafut al-Tahafut – kitab yang menjawab serangan Abu Hamid Al-Ghazali (450 - 505 H. = 1058 - 1111 M.) atas para filosof terdahulu -, Manahij al-Adillah fi ‘aqaid al-Millah – kitab yang didalamnya menghakimi manhaj para ahli kalam, terutama Asy’ariyah. Dia melihatnya secara logika Al-Qur’an yang menggabungkan antara hikmah dan syariat -, Fasl al-Maqal fi ma bain al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-Ittisal dan kitab Dhamimah fi al-‘ilm al-Ilahi. Walaupun kecil ukurannya, kitab tersebut merupakan dua teks peninggalan Islam yang sangat berharga.
Dalam warisan ilmu kalam dan filsafat ini, Ibn Rusyd mewujudkan mazhabnya dalam mempertemukan antara hikmah (filsafat) dengan syariat (agama dan wahyu).
Sedang dalam ilmu fikih, dia mempunyai kitab istimewa, Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtasid, yang tidak hanya menjadikannya sebuah kitab mazhab Maliki, tetapi dia menjadikannya sebagai filsafat fikih dan menguraikan sebab-sebab perbedaan para ahli fikih – semua ahli fikih dari semua mazhab -, sehingga kitab ini datang sebagai studi perbandingan fikih Islam yang mencerminkan batas tertinggi bagi peneliti yang sedang (tidak terlalu mendalam) dan batas permulaan bagi para mujtahid, di samping sebagai kitab yang penting dalam fikih Maliki.
Dalam ilmu kedokteran, Ibn Rusyd mempunyai lebih dari dua puluh buku. Bukunya yang terkenal adalah al-Kulliyat. Para penulis sejarah mengungkapkan tentang kedalaman Ibn Rusyd dalam bidang kedokteran, “fatwanya dalam ilmu kedokteran dikagumi sebagaimana kekaguman mereka terhadap fatwanya dalam fikih. Itu semua karena kedalaman filsafat dan ilmu kalamnya.
Ibn Rusyd dikenal dengan syarah Aristoteles, syarah yang tersebar luas di Eropa pada saat kebangkitannya, maka ada aliran pemikiran pada saat itu yang berlindung dibalik nama besarnya, dengan pendapat yang tidak pernah diucapkan oleh Ibn Rusyd dan dihasilkannya dalam karya-karyanya, baik dalam bidang filsafat maupun ilmu kalam. Aliran pemikiran ini dikenal dengan aliran Rusydi Latin (Aviroes Latin). Tetapi mereka yang mempelajari Ibn Rusyd dan melihat pada hakikat pemikiran Islam, walaupun mempelajarinya dari para orientalis besar, tentu mengetahui penyimpangan penisbahan aliran tersebut kepada filosof Islam Ibn Rusyd. Arnest Rinan (1823 - 1892 M.), salah seorang filosof Barat yang menonjol dalam mempelajari Ibn Rusyd, berkata:
“Takdir telah menentukan bahwa Ibn Rusyd telah menjadi perantara bagi munculnya kebohongan orang-orang yang sangat dengki dan menjadi perantara atas kekerasan berbagai bentuk pertentangan aqliyah dan pemikiran, sebagaimana namanya dijadikan bendera yang mengibarkan pendapat-pendapat tersebut, yang secara meyakinkan dia tidak pernah berpikir tentangnya sama sekali.”
Senada dengan makna ucapan Rinan di atas, Orientalis Spanyol Asin Plasius (1871 - 1944), mengatakan :
“Sungguh wajib bagi kita untuk memberi isyarat kepada pemikiran-pemikiran palsu, yang mana semua sejarawan menjadi korbannya. Yaitu sesungguhnya ketika mereka (para sejarawan) mendapati sekelompok para guru yang pada masa pertengahan dan masa kebangkitan diberikan pada mereka nama Rusydiyin, maka para sejarawan tersebut tidak ragu-ragu untuk menisbatkan semua teori dan pemikiran kepada Ibn Rusyd, yang mana dia (Ibn Rusyd) berbeda dengan kelompok tersebut.”
Dengan demikian, filsafat Ibn Rusyd harus lebih banyak kita sentuh dari kreasinya daripada syarah-syarahnya terhadap pemikiran Aristoteles. Berhati-hati dalam membebankan tanggungjawab pendapat dan pemikiran yang diucapkan oleh Aviroes Latin, karena terdapat perbedaan yang sangat besar antara aliran Aviroes Latin yang palsu dengan aliran Aviroes Islam yang dihasilkn oleh ahli fikih yang mutakallim dan filosof Muslim ini. Wallahualam.