Minggu, Januari 17, 2010

Pendidikan Moral: sebagai cara untuk memajukan perpaduan sosial

Pidato di depan Kelompok Studi Sosial
Saudara-Saudaraku,
Saya merasa gembira mengetahui bahawa Kelompok Studi Sosial ini memberikan perhatiannya kepada “Pendidikan Moral” dan menganggapnya sebagai “cara untuk mewujudkan perpaduan sosial” dan peristiwa ini terjadi di masa “nilai-nilai moral” telah tertinggal di belakang dan pada tempat yang semestinya diisinya dalam kehidupan sosial, di bawah pengaruh berbagai macam teori dan mazhab pemikiran yang berusaha untuk melupakan pengaruh-pengaruh ilmiah yang telah ditinggalkan nilai-nilai itu; dan dari sini teori dan mazhab itu menyeru untuk melupakan nilai-nilai itu sendiri dan menghapuskan dari bidang nyata kehidupan.
Mengingat teori dan mazhab itu, yang berusaha untuk melupakan pengaruh-pengaruh positif dari nilai-nilai moral dalam kehidupan masyarakat, dan mengingat pengaruhnya dalam udara pemikiran dan kemasyarakatan di masa sekarang, maka saya mengambil kesempatan ini, sebelum langsung masuk kepada pokok masalah yang saya telah dibebani untuk mempelajarinya: iaitu masalah pendidikan moral sebagai cara untuk mewujudkan perpaduan sosial. Saya ingin terlebih dahulu untuk membicarakan dalam beberapa baris saja masalah “nilai-nilai moral” itu sendiri dan pengaruhnya dalam masyarakat manusia. Kepercayaan kita akan nilai-nilai moral ini harus kuat, sebelum kita melakukan suatu percubaan di bidang “pendidikan moral”. Sebabnya adalah kerana tugas pendidikan moral adalah mencuba mewujudkan nilai-nilai moral tertentu yang masyarakat telah sesuai tentang kepentingan mewujudkannya, dan percaya akan keseriusan dan kepentingannya. Jadi kepercayaan seperti ini harus ada terlebih dahulu sebelum dilakukan percubaan itu.
Kita amat terpaksa untuk mempercayai bahawa perasaan moral atau perasaan susila adalah suatu kejadian asli (fitrah) dalam diri manusia, terlepas daripada bentuk nilai-nilai moral yang dominan dalam suatu masyarakat. Hanya dalam masa-masa yang aneh dan luar biasa sajalah dalam kehidupan ummat manusia, atau pada peribadi-peribadi yang abnormal sajalah, terjadi bahawa perilaku yang tidak baik dianggap baik, sedangkan perilaku yang terpuji dianggap tidak baik. Perselisihan biasanya terjadi mengenai apa yang dianggap perilaku yang baik dan apa yang dianggap perilaku tidak baik.
Sekarang kita juga merasa terpaksa untuk mempercayai bahawa unsur moral dalam kehidupan manusia, tidak dapat dipaksakan kepada orang-perseorangan baik oleh masyarakat mahupun oleh agama. Perasaan moral itu tertanam dalam kejadian manusia. Tugas agama adalah mengatur dan mengarahkannya, dan menentukan kriteria-kriteria yang tetap untuknya, sehingga tidak berubah-ubah sesuai dengan kehendak hawa nafsu, kepentingan kehendak alam. Moral harus selalu mempunyai ukuran yang tetap, tidak terpengaruh oleh hawa nafsu. Tugas masyarakat adalah menjaga sifat-sifat keutamaan yang telah disepakati bukan memaksakannya dalam bentuk yang menentang kehendak orang-perseorangan. Moral tidak dapat dipaksakan oleh masyarakat, kalau ia tidak mempunyai akar yang kuat dalam fitrah manusia. Sebabnya adalah kerana masyarakat itu adalah kumpulan orang-perseorangan, walau pun apa juga yang dikatakan orang tentang perkembangan-perkembangan yang masuk ke dalam mentaliti individu-individu dan perasaan mereka sewaktu mereka berkumpul dalam suatu kelompok. Sudah pasti bahawa hukum yang mengatur kehidupan kelompok sejalin dalam kejadiannya dengan hukum yang mengatur fitrah orang-perseorangan, sehingga dengan demikian mungkinlah berdiri suatu masyarakat yang terdiri dari orang-perseorangan itu, dan mungkin berdiri suatu kepentingan bersama di kalangan mereka, atas dasar sistem dan tradisi yang sama-sama mereka sepakati.
Akhirnya kita amat terpaksa menolak pendapat yang mengatakan bahawa kepentinganlah yang menjadi dasar moral, kecuali kalau yang dianggap dengan kata-kata kepentingan itu, adalah kepentingan tertinggi ummat manusia. Tetapi ini bukan yang dimaksud oleh para pendukung teori kepentingan dalam dunia moral. Kita juga terpaksa menolak gagasan kesenangan, kerana dalam kenyataan banyak sekali unsur moral itu yang bertentangan dengan kesenangan, dan dalam keadaan seperti itu moral adalah suatu keadaan terpaksa untuk memelihara adanya individu, di samping memelihara adanya kelompok, sampai ke tingkat di mana kalau ia dilanggar, individu itu sendiri mungkin hancur. Jadi ia dipaksakan untuk memelihara manusia dan dirinya, dan untuk memelihara dirinya itu sendiri.
Dalam keadaan ini, ia sama dengan kekang-kekang naluri pada binatang. Kekang-kekang seperti inilah yang menentukan masa-masa kesuburan. Maka binatang tidak mempunyai kecenderungan untuk melakukan tindakan berkembang biak, selain dalam waktu-waktu tertentu saja. Tetapi kekang-kekang yang membatasi manusia lain lagi, iaitu hukum moral. Kalau ia dibiarkan tanpa batas, maka ia akan menghancur diri sendiri, di samping juga menghancurkan orang lainnya.
Bagaimanapun juga, kita sampai kepada kesimpulan untuk menganggap unsur moral adalah sesuatu yang asli dalam fitrah orang-perseorangan, sampai ke tingkat dimana ia itu termasuk ke dalam cara-cara yang fitrah untuk memelihara diri. Tugas agama hanyalah mengatur unsur fitrah ini, mengarahkannya dan menentukan ukuran yang tetap baginya. Tugas masyarakat adalah menjaga undang-undang moral yang telah disepakati. Kita juga telah sampai kepada kesimpulan bahawa “undang-undang moral” itu dianggap sebagai suatu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat yang paling jelek keadaannya adalah masyarakat di mana individu digerakkan oleh kepentingan yang dekat saja dan kelazatan peribadi saja, tanpa ada tujuan yang lebih tinggi yang menjaganya, dan tanpa ada harapan dan dambaan untuk mencapai suatu perspektif yang tetap. Suatu bentuk dari masyarakat yang brengsek sepert ini terdapat dalam kehidupan kita sekarang ini, dan telah menyebabkan terjadinya perpecahan-perpecahan yang jelas dalam banyak masyarakat…..
Jadi harus ada nilai-nilai moral dalam kehidupan masyarakat. Dan perlu diadakan pendidikan moral untuk mewujudkan nilai-nilai ini. Ini secara umumnya. Dan sekarang baru kita bicarakan pokok masalah khusus, iaitu: “pendidikan moral sebagai jalan untuk mewujudkan perpaduan masyarakat”.
Perpaduan masyarakat adalah suatu usaha yang positif dalam bidang masyarakat. Ia tidak akan dapat terwujud kalau tidak didahului oleh perasaan yang timbul di alam hati nurani, dan didahului pula oleh tingkah-laku yang terjadi di dalam kehidupan kelompok.
Pendidikan morallah yang membangunkan perasaan yang mendorong itu, dan mewujudkan tingkah laku yang terjadi, di mana undang-undang dan peraturan-peraturan saja tidak cukup untuk menimbulkan pengaruh seperti ini. Kerana itu pendidikan moral dianggap cara yang paling positif dan realistik untuk mewujudkan perpaduan sosial, dan bukan hanya harapan-harapan yang bersifat khayalan di alam mimpi.
Banyak perasaan, banyak adat kebiasaan, harus dibangunkan terlebih dahulu, harus diatur dan ditumbuhkan dalam kehidupan individu, dalam hati nurani individu dan dalam tingkah-laku individu, agar atas dasar itu dapat didirikan perpaduan sosial, malah agar perpaduan sosial itu bangkit daripadanya. Pendidikan moral bertanggungjawab untuk merealisasikan semua ini di alam nyata.
Saya kira kita tidak keluar dari pokok masalah yang dibicarakan, kalau kita jadikan Islam sebagai pembimbing kita dalam bidang ini, kerana Islam dalam masa kebangkitannya yang pertama telah berhasil mendirikan sebuah masyarakat yang dapat dianggap sebagai masyarakat teladan dalam sejarah masyarakat-masyarakat yang telah menjadikan perpaduan sebagai dasar kehidupan, sampai ke tingkat dimana golongan Ansar telah menjamin golongan Muhajirin, membahagi-bahagikan untuk mereka harta, rumah tempat tinggal dan hak-milik mereka. Kemudian berdirilah seluruh sistem masyarakat Islam, sebagaimana berdiri juga tradisinya yang bersifat kerakyatan atas dasar perpaduan sosial. Sistem zakat, sistem pewarisan, sistem waqaf untuk kepentingan sosial, sistem jihad, sistem kebebasan, sistem ekonomi tanpa riba, semuanya itu termasuk ke dalam sistem-sistem yang berdasarkan perpaduan sosial. Demikian pula tradisi kebaikan, kemurahan hati, memberikan sedekah, berbuat baik, pemeliharaan orang yang lemah, memberikan bantuan, kepemudaan, semuanya ini adalah tradisi yang berdasarkan pada landasan yang sama. Kita tidak keluar dari pokok masalah yang dibicarakan, kalau kita membahas bagaimana Islam berpegang kepada pendidikan moral pada waktu ia mendirikan suatu masyarakat yang berberpadu, kalau kita menjadikannya sebagai pemimpin kita dalam percubaan ini yang telah berhasil dengan demikian suksesnya. Hal itu akan berguna untuk kita dalam menentukan batas bidang-bidang pengetahuan ini dan juga untuk mengetahui cara dan memberikan penerangan kepada jalan yang dapat kita tempuh sekarang ini juga dalam mewujudkan kejayaan seperti ini.
Islam telah berpegang dalam mewujudkan masyarakat yang berberpadu itu kepada peraturan-peraturan kesisteman tertentu, tetapi ia tidak membiarkan peraturan-peraturan ini bekerja sendiri terlepas dari motif-motif perasaan di alam hati nurani. Ia telah menggerakkan hati nurani ini kadang-kadang dengan pengarahan, kadang-kadang pula dengan pimpinan. Fungsi pengarahan itu adalah membangunkan kepekaan di alam perasaan. Fungsi pimpinan adalah menanamkan kebiasaan di alam kenyataan. Dengan kedua faktor inilah diselesaikan pendidikan moral yang dimaksudkannya untuk individu dan masyarakat.
Islam telah memulai membangun masyarakat di dalam hati nurani dan perasaan orang-perseorangan. Di sana di kedalaman jiwa, ditanamnya benih kecintaan, dihembuskannya angin kasih sayang, kecintaan kemanusiaan yang murni dan kasih sayang kemanusiaan yang membebaskan. Manusia telah dikembalikannya untuk mengingat bagaimana mereka diciptakan untuk pertama kali dari satu jiwa, dan digugahnya dalam perasaan mereka rasa berbangsa dan berkarib kerabat, dan di ingatkannya kepada mereka bahawa mereka itu adalah bersaudara dalam Allah, dalam tempat lahir dan dalam tempat kembali, sehingga kalau hatinya telah dipenuhi oleh perasaan halus seperti ini, maka mereka akan lebih dekat kepada kerjasama, dan lebih dekat kepada rasa persaudaraan:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
“Hai manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari satu jiwa, dan dijadikannya daripadanya pasangannya, dan dari keduanya itu disebarluaskanlah laki-laki yang banyak dan wanita. Bertaqwalah kepada Allah, yang dengan namaNya kamu saling menuntut dan hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu mengawasi kamu.“
(An-Nisa’: 1)
“Contoh orang-orang yang beriman itu dalam cinta-mencintai kasih-mengasihi dan sayang-menyayangi adalah seperti sebatang tubuh. Jika salah satu anggota menderita penyakit, seluruh tubuh ikut menderita dengan tidak bisa tidur dan menderita rasa panas”
(Hadith Riwayat Bukhari dan Muslim)
Di bawah naungan cinta dan kasih inilah ia menyeru manusia untuk saling mengasihi, untuk mengorbankan apa yang dirasakan bernilai bagi jiwa untuk menggembirakan orang lain. Untuk perpaduan itu harus ada sekelompok orang yang tidak mementingkan diri sendiri, mengorbankan apa yang mereka anggap berharga dan bernilai dari hak milik mereka. Di dalam masyarakat terdapat orang yang beruntung dan orang yang miskin. Jika orang yang beruntung tidak mahu berkorban dengan sebahagian dari apa yang mereka miliki, maka perpaduan tidak akan mungkin berdiri, dan kerjasama tidak akan mungkin timbul.
Al-Qur’an yang mulia telah melukiskan sebuah gambaran yang indah tentang rasa berkorban yang terdapat dalam diri penduduk Madinah, yang telah rela menyambut orang-orang Muhajirin, mereka bertempat tinggal, mereka bahagikan harta dan perumahan dengan perasaan dada yang lapang dan hati yang penuh toleransi:
وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan mereka yang telah menempati rumah sebelumnya dan telah beriman, mereka cinta kepada orang-orang yang berhijrah kepada mereka, dan tidak terdapat dari dada mereka itu keinginan kepada benda-benda yang telah mereka berikan, mereka lebih suka memberikan daripada memikirkan diri sendiri, walaupun mereka itu berada dalam keadaan miskin pula. Siapa yang memelihara diri dan kerakusan jiwanya, mereka inilah orang yang menang”
(Al-Hasyr: 9)
Gambaran ini adalah gambaran kemanusiaan tertinggi dalam bentuknya yang terindah dan tercantik. Ada pula suatu gambaran lain yang tidak kurang indah dan cantiknya, serta kasih sayang terhadap satu golongan orang yang beriman:
يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا (7) وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا (8) إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا (9) إِنَّا نَخَافُ مِن رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوسًا قَمْطَرِيرًا (10)
“Mereka melaksanakan nazar dan takut kepada hari di mana kejahatan berterbangan di mana-mana. Mereka memberikan makanan demi kecintaan kepada Tuhan kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan perang. Sesungguhnya kami memberi kamu makan dan untuk mencari keredhaan Allah. Kami tidak mengharapkan balasan dan ucapan terima kasih dari kamu. Kami hanya takut akan suatu hari dari Tuhan kami, hari yang amat kejam dan penuh kemarakan.”
(Al-Insan: 7-10)
Kemudian ia berkata kepada mereka:
“Semua harta dan usaha yang kamu berikan untuk mewujudkan perpaduan sosial adalah merupakan piutang terhadap Allah yang tidak akan sia-sia. Dan kalau hal itu tidak diberikan bererti kehancuran di dunia dan akhirat. Ia memberi makan kepada mereka untuk mendapatkan pahala Tuhan, dan diberinya peringatan akan seksa Tuhan. Kedua ini adalah cara mendidik hati nurani.”
مَن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ
“Siapa yang memberikan piutang kepada Allah dengan piutang baik, maka Allah akan melipat-gandakannya baginya. Dan ia akan memperoleh pahala yang mulia.”
(Al-Hadid: 11)
وَأَنفِقُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ تُلْقُواْ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Nafkahkanlah hartamu di jalan Allah. Dan jangan kamu biarkan tanganmu terjerumus ke dalam kecelakaan.”
(Al-Baqarah: 195)
Al-Qur’an mendorong mereka kepada perpaduan sosial bukan saja dalam batas harta benda, tetapi juga dalam setiap persoalan kehidupan, dan ini dibebaskannya kepada hati nurani, dan ia memenuhi hati nurani itu dengan perasaan takut dan taqwa kepada Allah. Taqwa dalam jiwa adalah faktor pendidikan jiwa yang terkuat dan terdalam.
Tuhan berkata:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Hendaklah ada di antara kamu ummat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh melakukan yang baik dan melarang melakukan yang tidak baik. Mereka ini adalah orang yang menang.”
(Ali-Imran: 104)
Rasulullah s.a.w berkata:
“Masing-masing kamu adalah penggembala, dan masing-masing kamu bertanggungjawab terhadap gembalaannya. Seorang pengusaha adalah penggembala, dan ia bertanggungjawab atas gembalaannya. Laki-laki adalah penggembala dalam lingkungan keluarganya dan ia bertanggungjawab atas gembalaannya. Wanita penggembala dalam rumah suaminya, dan ia bertanggungjawab atas gembalaannya. Pelayan penggembala terhadap harta benda tuannya dan ia bertanggungjawab atas gembalaannya. Anak penggembala terhadap harta bapaknya dan ia bertanggungjawab terhadap gembalaannya. Masing-masing kamu penggembala dan masing-masing kamu bertanggungjawab atas gembalaannya.”
(Hadith Riwayat Bukhari)
Islam tidak hanya berhenti dalam menggerkkan kepekaan perasaan, dalam usahanya mendidik moral, tetapi ia juga sengaja mengadakan kebiasaan dan tatacara kemasyarakatan, ia bekerjasama untuk memperkuat persaudaraan, untuk tolong-menolong dan saling membantu dalam lapangan kehidupan praktis.
Dari tata cara dan kebiasaan masyarakat ini, dengan mana Islam telah mendidik kaum Muslimin, maka ucapan akan menjadi lebih baik, perkataan akan menjadi lebih halus dan rasa kedamaian akan menjadi lebih merata:
وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُواْ الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Katakan kepada hamba-hambaKu, hendaklah mereka berkata dengan cara yang baik”
(Al-Isra’: 53)
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
“Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik. Maka orang yang di antara kamu dengan dia ada rasa permusuhan akan menjadi seakan-akan teman yang karib.”
(Fusshilat: 34)
وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّواْ بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
“Kalau orang mengucapkan salam kepadamu, balaslah dengan ucapan salam yang lebih baik, atau yang sama dengan itu.”
(An-Nisa’: 86)
Di antaranya adalah menghormati orang lain, dan berbaik sangka kepada mereka, menjaga namanya kalau orang itu tidak ada, dan menjaga jangan sampai orang itu menjauh kepada kita, dan takut kepada Allah tentang mereka:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Janganlah suatu golongan menghina golongan lain, kerana mungkin golongan yang dihina itu lebih baik. Wanita jangan menghina wanita lain, kerana mungkin yang dihina itu lebih baik. Jangan merendahkan kepada yang lain, dan jangan memakai nama yang menyakitkan hati. Nama yang paling jelek adalah berbuat dosa setelah beriman. Siapa yang tidak bertaubat, mereka ini adalah orang yang aniaya.”
(Al-Hujurat: 11)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman : Jauhilak banyak berprasangka. Kerana sebahagian prasangka itu adalah dosa. Janganlah kamu mengintai-ngintai orang lain, dan jangan memperkatakan keburukan orang lain. Adakah orang di antara kamu orang yang suka memakan daging saudaranya yang telah meninggal. Tentu kamu benci melakukannya. Tetapi takutlah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Pengasih.”
(Al-Hujurat: 12)
Demikianlah cara Islam melakukan pendidikan perasaan manusia, dan mengadakan tatacara dan kebiasaan kemasyarakatan, yang mungkin dipakai manusia sebagai dasar untuk bertemu dan bekerjasama dengan mudah dan saling membantu secara sukarela. Sebabnya adalah kerana perpaduan ini timbul dari hati kecil mereka, terpancar dari perasaan mereka, tidak dipaksakan kepada mereka dengan hukum undang-undang.
Kita sekarang ini dapat mempergunakan pengalaman praktis ini, yang suatu masa dahulu kala telah dipraktikkan Islam, dan atas dasar itu ia mendirikan suatu masyarakat yang tolong-menolong dan berberpadu. Apakah garis-garis besar percubaan ini yang dapat kita ikuti untuk pendidikan moral masyarakat?
Garis besar setiap percubaan untuk pendidikan moral haruslah berupa ikatan hati nurani manusia dengan suatu ufuk yang lebih tinggi dari diri yang terbatas dan kepentingan yang dekat. Suatu ufuk yang pengorbanan untuknya dapat dilakukan dengan enak, kesukaran yang ditemui dalam naik kepadanya terasa gampang. Apakah ufuk tinggi yang menarik perhatian ini?
Ada orang memandang sebagai kemuliaan nasional. Ada pula yang menganggap bahawa ufuk yang tertinggi itu adalah persaudaraan ummat manusia. Kedua hal ini tentu saja merupakan ufuk yang mulia dan penuh cahaya, di mana perasaan individu mungkin naik dan hanya ufuk kepentingan sementara dan kesenangan seketika saja, lalu tanggungjawab perpaduan sosial dapat diterima dengan sukarela. Tetapi saya sendiri, saya lebih suka kalau hati nurani orang itu saya ikatkan dengan suatu ufuk yang jauh lebih tinggi dari semua ufuk yang telah disebutkan tadi: iaitu ufuk yang mencakup semua ufuk-ufuk itu. Saya lebih suka untuk mengikatnya dengan Allah, Pencipta tanah air dan Pencipta manusia. Saya lebih suka kalau semua pengorbanan yang diberikan itu, dilakukan untuk kepentingan mencari keredhaan Allah, walaupun tidak dirasakan oleh tanah air dan tidak dimuliakan oleh seorang manusia pun. Saya lebih cinta kalau kecintaan kepada Allah, itulah yang menyatukan hati, yang merapatkan tangan dan mengetatkan tali antara lengan. Di waktu itulah terwujud gambaran yang cemerlang yang telah dilukiskan Rasulullah saw ketika ia berkata:
“Di antara hamba-hamba Allah terdapat manusia yang bukan Nabi dan bukan pula syahid. Pada hari kiamat tempat mereka di sisi Allah lebih hebat dari tempat para Nabi dan para syuhada.”
Mereka bertanya:
Siapakah mereka ini ya Rasulullah?
Jawab Rasul:
“Mereka itu adalah orang-orang yang saling kasih mengasihi dengan jiwa Allah di kalangan mereka, sedangkan di antara mereka tidak terdapat tali kekerabatan, dan juga tidak terdapat hubungan kewangan dan material. Demi Allah! Muka mereka itu cahaya dan mereka itu di atas cahaya. Bila manusia merasa takut, mereka tidak takut. Bila manusia merasa sedih, mereka tidak sedih.”
(Al-Hadith)
Terikatnya hati nurani manusia dengan Allah adalah garis pertama dalam setiap pendidikan moral, yang berhasil dan mempunyai akar yang dalam. Hal ini memerlukan bahawa kita menjadikan aqidah keagamaan sebagai dasar bagi pendidikan peribadi atau kemasyarakatan untuk menciptakan perpaduan kemasyarakatan. Bukan hanya untuk mewujudkan kepentingan masyarakat saja, dan bukan hanya untuk kepentingan nasional saja, tetapi juga untukmewujudkan kepentingan manusia yang lebih jauh yang mempunyai ciri ingin mencapai keredhaan Allah saja, sedia mengorbankan segala-galanya demi untuk mencari wajah Tuhan yang mulia.
Kita akan mendapati bahawa semua agama yang terdapat di negara-negara Arab, bukan hanya agama Islam, akan menolong kita kalau kita telah memastikan untuk menjadikan aqidah keagamaan sebagai dasar bagi pendidikan moral, untuk mewujudkan suatu perpaduan-perpaduan yang berhasil di bahagian dunia ini.
Kalau kita telah menguasai garis besar pertama ini, pada waktu kita mengikatkan hati nurani seseorang dengan Tuhannya, mengingatkan tingkahlakunya dengan ketaqwaan dan harapan kepada Allah, di waktu itu akan mudahlah bagi kita untuk menanam pada hati nurani ini segala macam perasaan yang menjadi dasar perpaduan sosial, dan membimbing orang-orang kepada suatu tingkah laku sosial yang dapat membawa kepada tujuan itu. Kalau setelah itu datang hukum untuk mendirikan suatu dasar praktis bagi perpaduan sosial, maka ia akan mendapati jalan terbuka lebar ke dalam jiwa manusia, dan jalannya kepada kehidupan masyarakat nyata telah terbentang luas.
Adapun garis-garis sampingan dalam percubaan pendidikan moral ini banyak jumlahnya, tetapi semuanya itu harus kembali kepada garis besar utama tadi.
Garis-garis itu semuanya harus mengarah kepada menciptakan kebiasaan-kebiasaan kemasyarakatan tertentu, dengan jalan memberikan inspirasi, pimpinan dan perbuatan nyata sebagai contoh. Kebiasaan penting untuk mengukuhkan arah perasaan, dan dalam beberapa keadaan hal itu adalah satu-satunya jalan yang terjamin untuk mewujudkan tujuan pendidikan moral ini. Contohnya adalah latihan orang-perseorangan, baik di sekolah, di perkemahan, di perkumpulan atau di dalam bentuk organisasi lain, untuk berkerja bersama-sama, dengan segala hal yang dituntutnya, seperti keinginan untuk bekerjasama, ikut serta dalam perasaan, rasa toleransi, menjaga perasaan orang lain, kesediaan untuk menerima pendapat yang tidak setuju dengan pendapat kita, mengorbankan masalah-masalah peribadi demi untuk menjayakan usaha bersama, pembahagian tugas dan koordinasinya, peraturan cara melaksanakan tugas, semua sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan seperti ini tidak akan dapat dikuasai hanya dengan pengarahan teori saja, tetapi harus dilatih secara praktikal, sehingga perasaan-perasaan dalam batin itu dapat berubah menjadi tingkah laku nyata di alam kenyataan.
Demikian pula kebiasaan untuk memberikan perhatian kepada orang lain, keadaan mereka, kedukaan mereka dan masalah-masalah yang mereka hadapi. Saya menamakannya kebiasaan, walaupun pada dasarnya ini adalah perasaan. Yang saya maksud adalah pengorganisasian, pengarahan dan latihan perasaan ini, dan penyelesaiannya secara praktis yang mengambil bentuk adat kebiasaan yang tetap dalam kehidupan individu. Ia tidak hanya menjadi seorang yang menyeleweng sehingga hanya mempunyai rasa ingin tahu saja dan ingin menyelidiki bagaimana keadaan orang lain, yang dilakukannya untuk memenuhi rasa ingin tahunya yang bersifat naluri, dan tidak hanya menguap dalam bentuk reaksi-reaksi bersifat semangat saja, baik dalam bentuk yang baik mahupun dalam bentuk yang tidak baik, dan setelah itu persoalannya selesai sampai di sana saja. Perasaan itu dididik sehingga menjadi perhatian yang benar-benar serius terhadap rasa duka dan masalah-masalah orang lain, kemudian diarahkan kepada membantu dan menolong mereka, lalu diadakan perorganisasian, sehingga kerjasama ini dapat mengambil bentuk kolektif yang nantinya akan menimbulkan perpaduan, saling menjamin.
Dengan contoh-contoh perasaan memperhatikan orang lain dan ingin berkorban untuk kepentingan orang lain yang dibangkitkan oleh perasaan keagamaan dan pengarahan pendidikan, berubah menjadi gerakan yang dapat menyalurkan perasaan itu, atau dengan kata-kata lain mengubahnya menjadi usaha-usaha yang terorganisasi, yang dilakukan oleh individu sehingga menjadi hal yang tetap yang dapat disamakan dengan kebiasaan.
Di sini saya ingin memberikan peringatan sedikit. Saya ingin pada waktu kita mengubah perasaan wijdani yang baik ini dalam bidang perpaduan sosial agar ini menjadi adat kebiasaan yang tetap dan reaksi positif di bidang praktikal. Saya ingin agar kita dapat memelihara vitalitas perasaan-perasaan wijdani ini kita harus selalu menjadikannya bangun, kita jadikan ia selalu hadir untuk dapat memenuhi panggilan dalam praktikal. Saya memberikan peringatan ini dalam bentuk yang keras, sebagai akibat dari apa yang saya saksikan sendiri di negara-negara Barat, di mana perpaduan sosial itu telah menjadi suatu kebiasaan praktikal, tetapi untuk kerugian perasaan kemanusiaan yang halus. Umpamanya seorang yang memberikan sumbangan untuk suatu amal kemasyarakatan, ia melakukan hal itu sebagaimana ia melakukan perbuatan makan atau minum atau menjalani jalan yang ia tempuh setiap hari. Tetapi sedikit demi sedikit ia mulai tidak merasakan kepedihan yang dirasakan oleh orang-orang yang diberinya bantuan, dan ia tidak merasakan lagi tali hubungan kemanusiaan yang menghubungkan mereka. Semuanya telah menjadi kebiasaan saja, telah menjadi adat kemasyarakatan saja. Dalam keadaan seperti ini, kita memang telah memperoleh bantuan dalam praktikal, tetapi kita telah kehilangan rasa seperasaan sesama manusia, suatu perasaan yang amat indah, amat agung dan amat penuh perasaan kasih. Seperti telah saya kemukakan, saya tidak ingin perasaan kemanusiaan itu menguap dalam bentuk reaksi-reaksi bersifat semangat saja, lalu berakhir di sana saja. Tetapi saya juga ingin sekali agar manusia itu tetap menjadi manusia agar perasaannya itu meningkat dan menjadi semakin halus, setiap kali ia melakukan perbuatan amal kebaikan. Perbuatan amal kebaikan itu harus tetap menjadi unsur pendidikan bagi orang yang melakukannya, dan ia tidak akan kehilangan ciri ini, di samping kegunaan praktikal yang ditimbulkannya bagi orang yang melakukannya. Kalau tidak begitu, hal itu mungkin akan amat mengurangi kebaikan yang mungkin akan diwujudkannya.
Akhirnya, mudah-mudahan saja saya telah dapat menyingkapkan, secara ringkas, peranan pendidikan moral dalam mewujudkan perpaduan sosial, sesuai dengan waktu yang disediakan untuk saya.
Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.