Rabu, Juli 08, 2009

Iluminasi

Tempat Pertama Iluminasi,
tentang Pengetahuan Tuhan, Sifat-SifatNya,
Nama-NamaNya, dan Tanda-TandaNya

Prinsip 1

Mengenai pembagian Wujud dan penegakan Wujud Primer

Bahwa yang ada adalah Realitas Wujud atau sesuatu selain itu. Yang kami maksudkan dengan Realitas Wujud adalah Yang tidak tercampur dengan apa pun tapi Wujud, apakah itu suatu keumuman atau suatu kekhususan, suatu batas atau suatu batasan, suatu kuiditas, suatu ketaksempurnaan, atau suatu kekurangan – dan inilah yang disebut “Wujud Perlu (Wajib)”. Oleh karena itu kita katakan bahwa jika Realitas Wujud tidak ada, maka tidak ada apa pun sama sekali yang ada. Namun konsekuensi ini terbukti-(dengan sendirinya) salah; maka premisnya pun juga salah.

Sebagaimana untuk menunjukkan keniscayaan Wujud Primer ini, ini adalah karena segala sesuatu selain Realitas Wujud adalah kuiditas tertentu suatu wujud partikular, tercampur dengan kekurangan dan ketaksempurnaan. Sekarang tiap kuiditas selain Wujud ada melalui Wujud, tidak dengan diri mereka sendiri. Bagaimana (mereka bisa ada tanpa Wujud (Keberadaan) ) ? Karena jika sebuah kuiditas diambil oleh dirinya sendiri, terpisah dari wujud, kuiditas itu sendiri tidak bisa “ada” dengan dirinya sendiri, untuk tidak mengatakan apa pun tentang kemaujudannya. Karena untuk menegaskan sesuatu ( dalam hal ini, “wujud”) sesuatu yang lain ( dalam hal ini, suatu kuiditas partikular) telah menganggap penegakan dan keberadaan (wujud) suatu hal yang lain tersebut. Dan wujud itu – jika itu adalah sesuatu selain Realitas Wujud – tersusun atas Wujud per se ( atau “ Wujud qua Wujud” ) dan suatu partikularitas lain. Namun setiap partikularitas selain Wujud adalah nonmaujud atau kurang. Mka setiap yang tersusun ( dari kuiditas partikular dan Wujud ) adalah posterior terhadap kesederhanaan Wujud dan dalam keadaan membutuhkan Wujud.

Maka kekurangan ( atau “nonbeing”) tidak masuk ke dalam eksistensi dan kemunculan aktual suatu benda, walaupun ia mungkin masuk ke dalam definisinya dan konsepnya. Karena untuk menegaskan konsep apa pun dari sesuatu dan untuk mempredikasikan konsep itu dari hal itu – apakah (konsep itu ) kuiditas atau sifat lain, dan apakah itu ditegaskan atau ditolak oleh sesuatu – selalu mensyaratkan wujud dari hal itu. Diskusi kita selalu kembali ke pada Wujud: apakah terdapat regresi tak hingga ( predikasi – predikasi dan subyek – subyek ) atau seseorang tiba di akhir pada sebuah Wujud Mutlak, tidak tercampur dengan sesuatu yang lain.

Maka telah menjadi jelas bahwa Sumber eksistensi segala sesuatu yang ada adalah Realitas Murni Wujud, tidak tercampur dengan hal apa pun selain Wujud. Realitas ini tidak dibatasi olah definisi, batasan, ketaksempurnaan , potensialitas kontingen atau pun kuidi tas apa pun; tidak juga Realitas ini tercampur oleh keumuman apapun, baik genus, spesies , ataupun pembeda, tidak juga Realitas ini tercampur dengan aksiden apa pun, apakah khusus atau pun umum. Karena Wujud lebih dahulu dari pada seluruh deskripsi - deskripsi ini yang berlaku bagi kuiditas – kuiditas, dan Yang tidak mempunyai kuiditas selain dari Wujud tidak dibatasi oleh keumuman atau pun kekhususan. Realitas ini tidak mempunyai beda khusus dan tidak mempunyai partikularitas yang terpisah dari Hakikat (atau Diri ) Nya Sendiri.; Realitas ini tidak mempunyai bentuk, tidak juga mempunyai perantara atau akhir. Sebaliknya, Realitas ini adalah BentukNya Sendiri, dan Realitas ini yang memberi bentuk pada segala sesuatu, karena Realitas ini adalah kelengkapan dari hakikat segala sesuatu. Dan Realitas ini adalah kelengkapan segala sesuatu karena Hakikat Nya diaktualisasikan dalam segala hal.

Tidak ada yang dapat menguraikan Nya atau mengungkapkan Nya selain Ia Sendiri, dan tidak ada pembuktian tentang Nya selain Hakikat (atau Diri) Nya Sendiri. Oleh karena itu Dia bersaksi melalui Diri Nya Sendiri kepada Diri Nya Sendiri dan kepada Unisitas Diri Nya ketika Ia berfirman: Syahidalloohu annahuu laa ilaaha illa huwa… ( Allah menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan melainkan Dia… ) (QS 3;18). Karena Ketunggalan Nya bukanlah merupakan ketunggalan partikular yang ditemukan pada suatu individu dari suatu hal yang alamiah; tidak juga merupakan ketunggalan generik atau spesifik yang ditemukan pada setiap gagasan umum atau setiap kuiditas. Ketunggalan Nya tidak juga merupakan ketunggalan konjungtif yang ditemui ketika sejumlah benda diatur atau disatukan menjadi sebuah hal yang tungal; tidak juga merupakan ketunggalan hubungan yang ditemukan dalam kuantitas – kuantitas dan hal – hal yang terukur. Tidak juga , sebagaimana yang akan Anda pelajari, merupakan ketunggalan – ketunggalan relatif yang lain, seperti ketungalan dengan kemiripan, keserbasamaan, analogi , korespondensi, reduplikasi – walaupun filsuf ( tertentu) telah membolehkan ketunggalan dengan kongruensi, atau jenis – jenis lain ketunggalan yang bukan merupakan Ketunggalan Sebenarnya. Tidak, Ketunggalan Nya bukanlah (ketunggalan – ketunggalan relatif ini), tidak diketahui dalam intinya yang paling hakiki, sebagaimana Zat Nya – Maha Mulia Ia – kecuali bahwa Ketunggalan Nya adalah Sumber seluruh ketunggalan – ketunggalan (lain ini), sebagaimana wujud Nya adalah Sumber seluruh wujud – wujud (partikular). Maka : wa lam yakun lahuu kufuwan ahad ( dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia ) (QS 112;4)

Dengan cara yang sama, Pengetahuan Uniter Nya adalah Realitas Pengetahuan itu yang tidak tercampur dengan kebodohan apa pun, sehingga Ia adalah Pengetahuan tentang segala hal dalam semua segi. Dan hal yang sama dapat dikatakan tentang seluruh Sifat – Sifat Kesempurnaan Nya ( yakni, Kehidupan, Kekuatan, Kehendak, dll – yang juga Tunggal dengan Zat dan Wujud Nya).

Prinsip 2

Mengenai kesederhanaan Wujud

Semua yang Sederhana dalam Hakikat esensial Nya adalah, disebabkan oleh Ketunggalan (mutlak) Nya, segala sesuatu. Ini tidak dihilangkan dari satu pun dari sesuatu – sesuatu itu kecuali untuk apa yang ada di atas tatanan ketidaksempurnaan – ketidaksempurnaan, kekurangan – kekurangan dan kemungkinan – kemungkinan.

(Sebagai contoh, ambil sebarang wujud partikular “A,” misal) Anda berkata “A bukan B”: sekarang jika itu terhadap yang A adalah (A sendiri) benar – benar sama dengan itu terhadap yang A adalah bukan-B, sehingga A dalam dirinya sendiri adalah dari kekesangathakikatannya merupakan kriteria untuk negasi ini (jika demikian), maka kesangathakikatan A akan merupakan sesuatu yang kurang, sedemikian sehingga setiap orang yang menginteleksi A juga akan menginteleksi “bukan-B.” Namun konsekuensi ini (jelas) salah, dan antesendennya juga salah. Maka ditegakkan bahwa ( dalam tiap wujud partikular “A”) substrat “ke-A-an” adalah sesuatu yang secara hakiki tersusun ( dari Wujud dan kuiditas partikular). Dan bahkan sesuai dengan jiwa ( yakni, pada level mental, wujud konseptual, ide “ke-A-an” adalah sebuah senyawa yang tersusun) dari ide sesuatu yang mempunyai wujud, yang dengannya A ada, dan ide kekurangan sesuatu, yang dengannya A bukan B dan bukan satu dari sesuatu – sesuatu lain yang dinegasikan darinya.

Jadi diketahui bahwa segala sesuatu yang atasnya sesuatu yang mempunyai wujud dapat dinegasikan tidak Sederhana secara mutlak dalam realitas hakikinya. Dan kebalikannya juga benar seperti itu: semua Yang Sederhana dalam Realitas hakiki Nya tidak dapat mempunyai sesuatu yang mempunyai wujud dinegasikan dari Nya. Karena jika tidak seperti itu, Ia tidak akan Sederhana dalam Realitas hakiki Nya, namun bahkan tersusun atas dua aspek : sebuah aspek yang dengannya ini adalah seperti itu ( seperti halnya “A”) dan sebuah aspek yang dengannya ia dengan cara yanglain ( yakni, bukan-B, bukan-C, dan lain – lain). Maka sekarang telah ditegakkan bahwa (Wujud) Sederhana adalah seluruh hal yang maujud sehubungan dengan wujud dan kesempurnaan mereka, namun tidak sehubungan dengan kekurangan – kekurangan dan ketaksempurnaan – ketaksempurnaan mereka.

Dan dengan ini didirikan bahwa Pengetahuan Nya atas segala hal maujud adalah Pengetahuan Sederhana, dan bahwa kehadiran mereka di dalam Nya adalah Sederhana dalam Realitas hakikinya. Karena segala hal di dalam Nya tercakup dalam Pengetahuan Nya dalam suatu cara yang lebih tinggi dan lebih sempurna, karena “ pengetahuan “ adalah (hanya) suatu pernyataan untuk Wujud, dengan syarat bahwa Ia tidak tercampur dengan materi.

Maka ketahuilah ini, kekasihku, dan reguklah keuntungan dengannya!

Prinsip 3

Mengenai keunikan Wujud Wajib


Wujud Wajib adalah “Satu dan tanpa sekutu” karena Ia Lengkap dalam Realitas, Sempurna dalam Hakikat, Tak Terhingga dalam Kekuatan dan Intensitas, dan karena – sebagaimana yang telah Anda pelajari – Dia adalah Realitas Murni Wujud, tidak terbatas dan tanpa batasan. Karena bila Wujud Nya mempunyai suatu batas atau partikularitas dalam suatu hal, Ia akanterbatas dan terpartikularisasi oleh sesuatu selain Wujud; mesti terdapat sesuatu dengan kekuatan melebihi Nya yang membatasi, mengkhususkan dan melingkungi Nya. Namun itu mustahil, Maka tidak terdapat kebaikan dan tidak pula kesempurnaan wujud yang tidak mempunyai Sumber nya dalam Dia dan tubuh di luar Dia.

Berikut adalah bukti penegasan Ketungalan Nya. Wujud Wajib tidak bisa lebih dari satu, karena jika seperti itu, ini akan memerlukan mempostulakan suatu wujud yang di satu sisi mesti namun di sisi lain dilingkungi dalam wujudnya, sebagai anggota kedua daru suatu pasangan. Tapi kemudian Dia ( yakni, Wujud Wajib “ pertama “ ) tidak bisa meliputi setiap wujud, karena kemudian terdapat suatu wujud lain yang tidak kembali pada Nya dan tidak turun atau beremanasi dari Nya. Ikemudian, ini mengakibatkan Ia memiliki suatu aspek kekurangan dari kemustahilan atau kemungkinan, sehingga Ia akan menjadi satu dari suatu pasangan dan tersusun ( dari wujud dan suatu kuiditas yang terbatas secara partikular) seperti halnya hal – hal mungkin yang lain, dan oleh karena itu tidak dapat dicakup dalam Realitas Wujud tersebut yang tidak tercampuri oleh keterbatasan apa pun atau dengan kekurangan ( yang diimplikasikan oleh ) perbedaan ini.

Maka telah ditetapkan bahwa dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (QS 112;4) dalam Wujud dan bahwa setiap kesempurnaan wujud adalah suatu penyiraman Kesempurnaan Nya, setiap kebaikan adalah cahaya samar – samar dari Cahaya Kecantikan Nya yang bersinar – sinar. Karena Dia adalah Sumber Wujud, dan semua yang lain adalah lebih rendah terhadap Ia, tergantung pada Nya untuk substansiasi dari hakikatnya.

Prinsip 4

Mengenai perbedaan fundamental antara konsep dan realitas Wujud


Sungguh yang paling redup dan cara – cara yang paling tidak cukupuntukmembuktikan (kebenaran ) penegasan Ketunggalan ilahi adalah yang diikuti oleh pemikir – pemikir tertentu yang lebih mutakhir, yang (secara salah ) mengasosiasikan metode mereka dengan pengalaman langsung beberapa wali – wali ilahi – Semoga Tuhan melindungi mereka dari ( angan – angan ) seperti itu! Pendekatan ini berdasarkan ( fakta) bahwa konserp turunan “ yang maujud” (al-maujud) adalah sesuatu yang umum dan meliputi-segala, sedangkan wujud (al-wujuud) adalah partikular, real dan tidak diketahui dalam intinya yang terdalam. Karena itu adalah boleh, ungkap mereka, bahwa wujud yang merupakan sumber turunan dari (konsep) “yang maujud” adalah sesuatu yang ada dengan sendirinya – bahwa, Realitas Wujud Wajib – dan bahwa wujud segala sesuatu yang lain ekivalen dengan hubungan (ketergantungan) hal – hal ini dengan Wujud Wajib. (Konsep) “yang maujud” maka, menjadi lebih umum dari pada Realitas itu dan lebih umum dari pada semua hal lain yang terhubung ( dengan hubungan ketergantungan ) kepada Nya. Karena itu arti ( “yang maujud”) harus satu dari dua hal ini: Wujud Yang Ada Dengan Sendirinya, atau yang terhubung (dengan hubungan ketergantungan) kepada Nya. Dan kriteria hal ini ( bahwa, yang menjadi asal konsep “ yang maujud ‘) mestilah yang mana di antara mereka yang merupakan Sumber efek – efek.
(Sejauh ini tidak terdapat masalah dengan penalaran mereka.) “Tapi untuk mereka yang tidur sebentar, meskipun suatu hal yang mudah adalah suatu beban yang besar.” Karena benar bahwa Wujud – jika dengannya seseorangn mengartikan Wujud Yang Ada Dengan Sendirinya- dapat disebut “Yang maujud.” Namun orang – orang ini berlebihan dalam memandang kesangatintian persoalan ini, yaitu apakah Hakikat Nya – Yang Maha Mulia – identik atau tidak dengan arti Wujud Mutlak ituYang memiliki berbagai cara – cara atau (manifestasi-manifestasi individual) ditegakkan dalam sesuatu – sesuatu. Cara ( merealisasikan Ketunggalan batin Wujud dalam seluruh manifestasi – manifestasinya ) ini dihalangi dari mereka karena mereka telah menegaskan bahwa tidak ada arti Wujud Mutlak yang terdiri dari semua yang ada kecuali untuk suatu pengertian abstrak, turunan yang digabungkan dari intelegebel – intelegebel mental (murni) dan tidak berhubungan dengan apa pun (yang nyata) . Saya mengharapkan bahwa Saya tahu bagaimana seseorang yang ahli dalam tata bahasa dan (cara) pemaiaian kata – kata dapat mengamati tuatu pernyataan (seperti “yang maujud”) merupakan turunan, dan tetapi tidak mengerti konsep sumber (suatu) turunan seperti ini! Bagaimana mungkin suku turunan menjadi yang paling diketahui dari semua konsep (karena “yang maujud,” dalam pandangan mereka, adalah segera dan terbukti sendiri oleh setiap orang), ketika sumbernya tetap menjadi yang paling tersembunyi dari hal-hal yang tidak diketahui – sungguh mustahil bahkan untuk memahaminya? Dan bagaimana mungkin arti turunan adalah satu, ketika sumbernya tidak pasti di antara dua hal, yang satu di antaranya adalah Zat yang tidak dapat diketahui dalam inti Nya yang terdalam, dan yang kedua terdiri dari hubungan terhadap Yang Tidak Diketahui itu – karena tentu hubungan dengan yang tidak diketahui juga tidak diketahui?

Tidak, yang benar dari hal ini adalah konsep umum ini yang merupakan sumber turunan ( konsep ) “Yang Maujud Mutlak” adalah (secara sederhana judul lain untuk) Sesuatu Yang direalisasikan dalam segala sesuatu, sejumlah bilangan mereka, dipredikasikan atas mereka sesuai dengan derajat – derajat intensitas dan kelemahannya maupun prioritas dan posterioritasnya yang berbeda-beda. Dan yang paling sempurna dan yang paling intens dari wujud – wujud adalah Wujud Nyata Yang Sebenarnya yang merupakan Realitas Murni Wujud, tidak tercampur dengan apa pun selain Wujud.

Terhadap Diri Nya Sendiri Dia adalah yang paling nampak dan yang paling termanifestasi dari wujud – wujud. Tapi karena kesangatkelebihan kemanifestasianNya ( yang dengannya ) Ia menaklukan dan menguasai indera – indera dan jiwa – jiwa (biasa), Ia menjadi terhijab dari pemahaman dan pandangan (manusia). Jadi aspek yang melaluinya Ia tersembunyi (terhadap persepsi biasanya ) adalah secara tepat itu yang dengannya Dia nyata (dalam kesadaran “pengetahu” yang tercerahkan) .

Pertanyaan penegasan Ketunggalan ilahi tergantung pada ini. Pertanyaan ini hanya dapat dipecahkan dalam cara ini, sama sekali tidak dengan yang lain.

Prinsip 5

Mengenai hubungan antara Sifat-Sifat Tuhan dengan Zat Nya

Sifat – Sifat Nya – Semoga Ia diMuliakan – adalah benar – benar sama dengan Zat Nya. Ini tidak ( difahami ) sebagaimana (teolog) Asy’ariyah meletakkannya, yang menegaskan kejamakan Sifat dalam wujud aktualnya (tidak sekedar konseptual), dan karena itu mengimplikasikan kejamakan delapan (Sifat) koeternal (yang terpisah dari Zat Tuhan). Tidak juga itu seperti ungkapan kaum (teolog) Mu`tazilah, yang secara total menolak realitas konseptual yang berbeda Sifat –Sifat, tapi kemudian menegaskan efek – efek mereka dan menggantikan (dalam pandangan mereka) Zat (yang sama sekali transenden) sebagai pengganti mereka ( dalam menghasilkan efek – efek ini ). (Posisi mereka) adalah tepat seperti beberapa dari (pemikir – pemikir mutakhir) tersebut (yang disebutkan dalam Prinsip 4, yang menolak realitas ekstrakonsepsual Wujud – mengklaim bahwa kuiditas adalah realitas – realitas primer – namun kemudian tetap berusaha untuk berbicara Tuhan sebagai) Sumber Wujud. Maha Tinggi Ia di atas kedua penihilan (Sifat –Sifat oleh Mu`tazilah) dan antrophomorfisma (implisit dalam konsepsi Asy`ariyah).

Tidak (ketunggalan Sifat – Sifat Tuhan dan Zat Tuhan hanya dapt dipahami dengan benar) dalam cara yang diketahui oleh ar-roosikhuuna fi al-‘ilmiy ( orang – orang yang mendalam ilmunya ) (QS 3;7) dari dari ummatan wasathon (QS 2;143), yakni mereka yang tidak dikalahkan oleh baik kelebihan ataupun kekurangan.

Prinsip 6

Mengenai ketunggalan dan kesempurnaan Ilmu Tuhan

Pengetahuan Nya atas segala sesuatu adlah Sebuah Realitas. Tapi pada saat Pengetahuan Nya tersebut Tunggal, ia juga merupakan pengetahuan tentang tiap hal : Ia tidak meninggalkan apa pun yang kecil atau besar, namun Ia menghitungnya. Karena jika terdapat sesuatu yang tidak diketahui terhadap Pengetahuan ini, maka Itu bukanlah Realitas Pengetahuan, namun pengetahuan di suatu sisi dan kejahilan di sisi lain. Tapi realitas dari suatu hal per se (yakni, sebagaimana hal itu sendiri sebenarnya) tidak dapat digabungkan dengan sesuatu yang lain, atau seluruh hal itu belum bergerak dari potensi ke aktualitas. Karena kita telah menunjukkan bahwa Pengetahuan Nya dapat direduksi sebagai Wujud Nya (jika ia secara konseptual berbeda dengan Wujud Nya). Maka, sebagaimana Wujud Nya – Yang Maha Mulia – tidak bercampur dengan kekurangan apa pun sama sekali, seperti itu pula Pengetahuan Nya atas Zat Nya ( atau Diri Nya), yang merupakan Kehadiran Zat Nya ( pada Diri Nya Sendiri), tidak bercampur dengan ketidakhadiran apa pun sama sekali. Ini karena Zat Nya adalah Yang Membuat segala sesuatu menjadi hal – hal tersebut dan Yang memberi realitas kepada seluruh realitas. Oleh karena itu Zat Nya benar – benar adalah hal – hal itu dari pada mereka dalam diri mereka sendiri. Karena dengan dirinya sendiri sesuatu mungkin, namun bersama dengan Yang Membuatnya sesuatu dan Yang memberinya realitassesuatu tersebut mesti mengada – dan wujud aktual sesuatu tersebut lebih intens dari pada kemungkinannya.

Sekarang bagi orang yang kesulitan ( untuk memahami ) bahwa Pengetahuan Nya – Yang Maha Mulia – dapat Tunggal namun sekaligus merupakan pengetahuan tentang segala hal, ini karena orang tersebut membayangkan bahwa Ketunggalan ini numerik dan bahwa Pengetahuan Nya adalah satu dalam jumlah. Tapi telah kita tunjukkan bahwa ini tidak seperti itu. Namun, Pengetahuan Nya Tunggal dalam arti yang benar, demikian pula seluruh Sifat – Sifat Nya Yang Lain. Tidak ada apa pun selain Realitas Yang Benar-Benar Real yang Tunggal dalam arti yang benar. Sebaliknya, hal – hal yang mungkin semuanya memiliki jenis ketunggalan yang lain, sebagaimana ketunggalan individual, spesies, genus, hubungan, dan lain – lain.

Ini adalah satu dari yang tersulit dari semua pertanyaan tentang Tuhan. Namun Aoa yang dari sisi Tuhan ( dalam Pengetahuan Nya) adalah Realitas – Realitas aktual, primordial ( hal – hal yang mungkin), Yang dari Nya hal – hal ini turun pada tingkatan bayangan – bayangan dan citra – citra. Dan apa yang dari sisi Tuhan dari hal – hal ini benar-benar lebih merupakan hal – hal ini dari pada mereka sendiri dengan diri mereka sendiri.