Rabu, Juli 08, 2009

Suhuf Asmara

Hati nan dipenuhi oleh si mata safir
Adalah seperti piala nan pecah oleh panas air
Safir yang memerah kerna detak kerinduan fakir
Air nan mendidih sebab bara asmara fakir

Hati nan dipenuhi oleh mata kejora
Yalah seperti piala nan mengungu bak anggur
Kejora berkejapan bak bintang nan tersembunyi dalam samudera
Anggur nan diperam dalam kelam Layla malam tujuh abad ia tepekur

Oh, Indahnya Kekasih adalah KetunggalanNya nan tiada terperi
Oh, Gelora Kasih adalah KesucianNya nan senantiasa perawan
Oh, Gemilang Kekasih adalah kepang rambutNya dan bukan selain itu
Oh, Cantiknya Kekasih adalah KemahabidadarianNya , sungguh Kekasih adalah Satu-Satunya Layla di satu-satunya kelam Malam dan Ia pula satu-satunya rembulan dan terpaan-terpaan pendaran Cahaya di Pipi

Si ahli malam berkata, Kau demikian Terang walaupun Kau pulalah kelam
Kau demikian Tenang dan Anggun walaupun Kau pulalah rindu
“Wahai Musa, ketika Ku Sakit kenapa kau tak menjengukKu,” kataMu
Sungguh Kau adalah Sang Maha Perawan nan Senantiasa Sempurna dalam Perih Sepi KetunggalanMu, Kemuliaan KeanggunanMu duhai Ratu

Si ahli samudera berkata, Kau – lah Sang Maha Mutiara nan tersembunyi di segala samudera
Namun Kau pula-lah buih-buih nan menari-nari di mulut lumba-lumba juga ikan-ikan dan ujung-ujung ombak
Betapa sulit para nelayan dan perompak apalagi bajak laut memahami perkataan ini;
“ Segala Samudera ini hanyalah ada untuk dan demi jiwa Si Mutiara Tunggal nan maha cemerlang, tak semua “samudera” memiliki mutiara, kata Rumi”

Si ahli sampan berkata, karena Kau sampan ku bisa maju di lelautan
Karena Kau sampan ku tidak tenggelam di lelautan
Karena Kau dayungku dan layarku bisa menggerakkan lautan
Kau-lah nan tersembunyi di dalam sampan, dayung, e-ombakan, le-layar-an, pula buih-buih gelombang juga angin dan badai



Si ahli anggur berkata, bilamana anggur di peram berabad maka ia pun menjadi demikian keras
Sungguh Kau adalah segala abad dan segala masa, peramlah angur-anggur dalam Ia
Kan kau dapatkan sebaik-baik anggur nan mahamemabokkan
Dengan aroma baunya saja, berubahlah seorang “raja mulia’ bahkan “ulama” menjadi faqir gelandangan nan tiada harganya nan senantiasa bersenandung dan berseloroh Asmara, Asmara, oh Asmara

Si ahli hukum berkata, mabok adalah terlarang
Faqir menjawab, ku tak minum khamr, sekali-kali
Namun kemanapun ku pergi, Aroma anggur itu nan telah diperam di dalam Nampan Kekasih
Meliputiku, dalam hawaMu aku terbang aku terbang di suatu malam, kata sebuah sya’ir

Di manakah anjungan sampan, bila ;
Tiada daratan, hanyalah bahari dan samudera, juga;
Di manakah tempat berdiri pemabok, apabila;
Sempoyongan ia dalam hawaNya nan memabokkan; tiap zarrah nan dilewatinya.

IndahMu tentu tak lepas dari GemulaiMu
LembutMu tentu tak lain dari Elus Mu
Manis CintaMu tentu tek lepas dari Perih RinduMu
Mata CintaMu tentu tak lepas dari Saung LaraMu

Karena, manisnya cinta adalah pada rindunya
Dan agung samudera adalah kerasnya ombaknya
Juga dalamnya dan berbagai rahasianya
Karena, harumnya cinta adalah duri-duri misiknya

Sungguh, sekaya-kaya manusia dalah pemilik pundi-pundi nan kosong
Karena setiap hawa kekosongan adalah harapan
Dan tiap harapan adalah KekasihNya, Sang Maha Pemberi, Sang Pemurah
Sungguh, sekaya-kaya manusia yalah jiwa-jiwa nan tepekur dalam AromaNya Nan Memabukkan

Maka siapa kah yang hakikinya kaya
Raja nan bertahtakan intan ataukah si miskin kelana?
Demikian lah jawaban sang ahli asmara;
“cinta pada mu adalah segalanya.”




Bidadari-bidadari Cahaya nan bersayapkan keindahan bulu matanya nan lentik
Bercengkerama di lembah-lembah khalwat , keindahannya senantiasa bertebaran
Suguhkan semangka di padang-padang kesendirian, kesegarannya senantiasa bersegaran
Senandung lagu cinta cahaya nan berteteskan kerinduan, membuat mata hati semakin lentik

Sang ahli seruling berkata; gading tak dapat kalahkan bambu
Karena utuh gading yang tak retak, utuh pula serulingnya tanpa gemeretak
Sedang bambu berseratan tak pula utuh, maka tiupannya meluluh-lantak
Hati layla dan jiwa majnun, dan ribuan pasangan kekasih nan penuh rindu

Demikianlah watak-watak asmara; bilamana kau adalah pejalan cinta
Pula pundi-pundi anggur hakiki; bilamana kau adalah pemabok gila
Pula pecahan-pecahan piala cinta; bilamana kau adalah tamparan cinta
Pula putik-putik bunga abadi; bilamana kau adalah wewangian – Nya

Sungguh dalam beberapa lembar ini; tiada apa pun tak pula ajaran, melainkan;
Kepastian bahwa yang pecah telah berpecahan, bak hati nan penuh darah, dan;
Asmara pastilah hati nan berpecahan, bergelimang rindu bak darah, pula;
Suhuf-suhuf kemabokan abadi; dari hawa-hawa sang maha anggur, demikianlah usai dengan menyebut nama-namanya nan penuh asmara.