Rabu, Oktober 03, 2012

INSTRUMEN PENELITIAN

INSTRUMEN PENELITIAN
MUHAMMAD NANANG QOSIM


BAB I
Pendahuluan
    Instrumen merupakan Alat yang di pakai untuk mengerjakan sesuatu sarana penelitian (berupa perangkat tes dsb) untuk memperoleh data sebagai bahan pengolahan. (Kamus Besar indonesia edisi ketiga Hal: 437).
    Penelitian adalah kegiatan pengmpulan, pengolahan analisa dan penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan obyektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prisip umum. (Kamus Besar indonesia edisi ketiga).
    Instrumen penelitian merupakan alat yang dipakai suatu penelitian yang dilakukan secara sistematis dan obyektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguji suau hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prisip umum.













BAB II
Pembahasan
Keberhasilan penelitian banyak ditentukan oleh instrumen yang digunakan, sebab data yang diperlukan untuk menjawab pertanyaa penelitian (masalah) dan menguji hipotesis  diperoleh mellui instrumen. Instrumen sebagai alat pengumpul data harus betul-betul empiris sebagaimana adanya. Data yang salah atau tidak menggambarkan data empiris bisa enhyesatkan peneliti, sehingga kesimpulan penelitian yang ditarik atau dibuat peneliti bisa keliru.  Ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam menyusun instrumen penelitian, antara lain :
1.    Masalah Variabel yang diteliti termassuk indikator variabel, harus jelas dan spesifik sehingga dapat dengan mudah menetapkan jenis instrumen yang akan digunakan.
2.    Sumber  data/informasi baik jumlah maupun keragamannya harus diketahui  terlebih dahulu sebagai bahan atau dasar dalam menentukan isi, bahasa, sistematika item dalam instrumen penelitian.
3.    Keterandalan dalam instrumen itu sendiri sebagai alat pengumpulan data baik dari keajegan, kesahihan maupun objektivitasnya.
4.    Jenis data  yang diharapkan dari penggunaan instrumen harus jelas, sehingga peneliti dapat memperkirakan cara analisis data guna pemecahan masalah penelitian.
5.    Mudah dan praktis digunakan akan tetapi dapat menghasilkan data yang diperlukan.
Apabila mengkaji hakikat instrumen penelitian, peneliti sebaiknya memperhitungkan terlebih dahulu jenis data manakah yang diperlukan dalam penelitian. Apakah data kuantitatif atau data kualitatif? Apakah data nominal, ordinal, interval atau data rasio ? apakah data primer atau data sekunder? Data kuantitatif data yang berkenaan dengan jumlah atau kuantitas, yang dapat dihitung dan simbolkan dengan ukuran-ukuran kuantitas.  Data kualitatif berkenaan dengan nlai kualitas seperti baik, sedang, kurang, dan lain-lain. Data kualitatif jika perlu dapat disimbolkan dengan ukuran-ukuran kuantitatif, asal ada kriteria yang jelas dan ajeg penggunaannya.
    Data nominal adalah data kategori, yakni klasifikasi atau penggolongan. Data ordinal adalah data yang memiliki penggolongan dan urutan (order) berdasarkan kriteria tertentu, misalnya ranking, nomor urutan. Data interval adalah data yang memiliki sifat penggolongan, urutan, dan harga atau nilai.
    Misalnya data mengenai prestasi belajar. Data rasio adalah data yang memiliki sifat-sifat kategori, ordinal, interval, dan memiliki standar yang pasti. Misalnya, data hasil pengukuran dengan alat yang baku seperti meter untuk ukuran panjang, kilogram untuk ukuran berat, celcius untuk ukuran suhu dan lain-lain. Data primer adalah data yang diperoleh dari tangan pertama, sedangkan data sekunderdiperoleh dari tangan kedua seperti laporan, dokumentasi, nilai rapot, nilai ujian dan lain-lain.
A.    Jenis-jenis Instrumen
Instrumen penelitian sebagai alat pengumpul data , dibedakan menjadi beberapa jenis, antara lain :
1.    Tes
Tes adalah alat pengukur yang berharga bagi peneitian pendidikan. Tes ialah seperangkatseperangkat rangsangan (stimulus) yang diberikan kepada seorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang dapat di jadikan dasar bagi penetapan skor angka. Persyaratan pokok bagi tes adalah Validitas dan reliabilitas. Dua jenis tes yang sering dipergunakan sebagai alat pengukur adalah :
a.    Tes lisan, yaitu berupa sejumlah pertanyaan yang diajukan secara lisan tentang aspek-aspek yang ingin diketahui keadaannya dari jawaban yang diberikan secara lisan.
b.    Tes tertulis, yaitu berupa sejumlah pertanyaan yang diajukan secara tertulis tentang aspek-aspek yang ingin diketahui keadaannya dari jawaban yang diberikan secara tertulis. Tes tertulis ini dibedakan dalam dua bentuk yaitu ;
(1)    Tes essay (essay test) yaitu tes yang menghendaki agar testee memberikan jawaban dalam benuk uraian atau kalimat-kalimat yang disusun sendiri.
(2)    Tes objektif adalah suatu tes yang disusun di mana setiap pertanyaan tes disediakan alternatif jawaban yang dipilih. Tes ini dapat menghasilkan skor konstan, tidak tergantung kepada siapa pun yang memberi skor tidak dipengaruhi oleh sikap subjektivitas. Tes subjektif diberi ke dalam beberapa bentuk berikut ini :
(a)    Tes betul-salah (true false items)
(b)    Tes pilihan Ganda (multiple choice items)
(c)    Tes menjodohkan (matcing items)
(d)    Tes melengkapi (completion items)
(e)    Tes jawaban singkat (short answer items)
(Mechrens dan Lechman, 1975)
Dilihat dari tingkatannya tes dapat diklasifikasikan menjad dua tes baku dan tes buatan penliti sendiri. Tes baku adalah tes yang dipublikasikan dan telah disiapkan oleh para ahli secara cermat sehingga norma-norma perbandingan, validitas, reliabilitas dan petunjuk pemberian skornya telah di uji dan disiapkan. Tes buatan sendiri, agar dapat dipergunakan sebagai alat pengukuran perlu diperhatikan beberapa hal berikut :
(1)    Tes harus valid
Tes disebut valid apabila tes tersebut benar-benar dapat mengungkapkan asek yang diselidiki secara tepat, dengan kata lain harus memiliki tingkat ketepatan yang tinggi dalam mengungkap aspek-aspek yang hendak diukur.
(2)    Tes harus realiabel
Tes dikatakan reliabel apabla tes tersebut mampu memberikan hasil yang relatif tetap apabila dilakukan secara berulang pada kelompok individu yang sama. Dengan kata lain tes itu memiliki tingkat ketetapan yang tinggi dalam mengungkap aspek-aspek yaang hendak diukur.
(3)    Tes harus objektif
Tes dikatakan objektif apabila dalam memberikan nialai kuantitatif terhadap jawaban, unsur sobjektivitas penilai tidak ikut mempengaruhi.
(4)    Tes harus bersifat diagnostik
Tes bersifat diagnostik apabila tes memiliki daya pembeda dalam arti mampu memilah-milah individu yang memiliki kemampuan yang tinggi sampai dengan angka terendah dalam aspek yang akan diungkap. Untuk itu harus dilakukan perhitungan tingkat kesukaran butir tes dan analisa butir tes. Tingkat kesukaran berupa indeks P = 100 dari satu butir tes yang termudah sampai indeks P = 0,00 dari satu item tes yang tersukar. Keadaan ini harus tersebar sedemikian rupa di dalam tes. Penyebarannya disarankan sebagai berikut 20% butir tes yang sukar 50% butir tes yang kesukarannya sedang, dan 30%butir tes yang mudah.
(5)    Tes harus efesien
Tes yang harus efesien yaitu tes yang mudah cara membuatnya dan mudah pula penilainnya.

2.    Wawancara dan kuisioner
Salah satu cara untuk memperoleh data ialah dengan jalan mengajukan pertanyaan. Wawancara dan kuesioner memakai pendekatan ini. Instrumen ini dapat digunakan untuk mendapatkan informasimengenai fakta, keyakinan, perasaan, niat, dan sebagainya. Meskipun wawancara dan kuesioner sama-sama menggunakan pendekatan bertanya, kedua metode tersebut mempunyai perbedaan penting.
a.    Wawancara adalah metode pengumpulan data yang sudah mapan dan yang, karena beberapa sifatnya yang  unik, masih banyak dipakai. Salah satu aspek wawancara yang terpenting ialah sifatnya yang luwes. “Rapport”  atau hubungan baik dengan orang yang diwawancarai dapat memberikan suasana kerjasama, sehingg memungkinkan diperolehnya informasi yang benar. Pewancara dapat mempertimbangkan macam orang yang diwawancarai serta situasi ketika wawancara itu dilakukan. Pewancara dapat menguraikan pertanyaan atau menjelaskan maksud pertanyaan it sekiranya pertanyaan tersebut kurang jelas bagi subjek. Kelebihan-kelebihan ini tidak terdapat dalam teknik pengumpulan data yang lain.
b.    Kuesioner
Kontak langsung dengan para subjek yang diperlukan dalam wawancara memakan banyak waktu serta mahal biayanya. Banyak informasi yang sama dapat dikumpulkan dengan perantaraan daftar pertanyaan tertulis yang diberikan kepada para subjek. Dibandingka dengan wawancara, daftar pertanyaan atau kuesioner tertulis ini lebih efesien dan praktis, serta memungkinkan digunakannya sampel yang lebih besar. Kuesioner banyak digunakan penelitian pendidikan. Keuntungan selnjutnya teknik ini adalah, karena semua subjek diberi instruksi yang sudah baku, maka hasil-hasil penelitian itu tidak akan diwarnai oleh penampilan, suasana perasaan, atau tingkah laku peneliti.
Yang Perlu Diperhatikan Dalam Membuat Kuesioner
•    Pakai bahasa yang sederhana, yang mudah dimengerti oleh responden, hindari menggunakan bahasa yang sulit dimengerti
Contoh:
•    Apakah Ibu mengikuti program ASI Eksklusif?
•    Apakah Ibu memberikan makanan tambahan selain ASI pada bayi ibu? (lebih mudah dimengerti)

3.    Daftar infertory
Mendapat ukuran kepribadian adalah bidang lain yang menarik perhatian para peneliti pendidikan. Ada beberapa jenis ukuran kepribadian , masing –masing mencerminkan sudut pandang teoritis yang berlainan. Sebagian mencerminkan teori tentang sifat dan jenis (traith and type theories), sedang yang lain berasala dari teori psikoanalitis dan motivasi. Peneliti harus mengetahui secara tepat lebih dulu apa yang diukurnya baru kemudian memilih instrumen, dengan memperhatikan bukti kevalidan instrumen. Tiga jenis ukuran kepribadian yang paling banyak dipakai adalah :
(1)    Daftar inventori (inventories)
(2)    Skala penilaian (rating scale) dan
(3)    Teknik proyektif
4.    Skala pengukuran
Skala Pengukuran menurut (Nazir, 1999), serta (Good dan Hatt, 1952) adalah cara mengubah fakta-fakta kualitatif yang melekat pada objek atau subjek penelitian (attribute) menjadi urutan kuantitatif. Pembuatan skala pengukuran ini dibuat dengan mendasarkan pada dua asumsi.
(1)    Ilmu pengetahuan pada akhir-akhir ini lebih cenderung menggunakan prinsip-prinsip matematika
(2)    Ilmu pengetahuan semakin menuntut presisi yang lebih baik utamanya dalam hal mengukur gradasi, misalnya sangat setuju, setuju, tidak setuju, sangat tidak setuju, atau dalam urutan angka seperti contohnya, 4,3,2,1.
5.    Obsevarsi
Dalam banyak hal, pengamatan langsung secara sitematis terhadap tingkah lau merupakan metode yang disukai. Seorang peneliti menetapkan terlebih dahulu tingkah laku yang ingin diteliti, keudian memikirkan prosedur sistematis untuk menetapkan, menggolongkan, mencatat tingkah laku itu, baik dalam situasi wajar, ataupun yang “buatan”.
6.    Sosiometri
Teknik Sosiometris dipakai untuk mempelajari organisasi kelompok-kelompok sosial . prosedur dasarnya, meskipun dapat dimodifikasi dengan berbagai cara, berupa permintaan kepada para anggota suatu kelompok tertentu untuk menunjukan teman pilihan mereka yang pertama, kedua, dan seterusnya menurut kriteria tertentu, biasanya untuk sesuatu kegiatan tertentu pula.




















BAB III
Kesimpulan
Instrumen merupakan Alat yang di pakai untuk mengerjakan sesuatu sarana penelitian. Keberhasilan penelitian banyak ditentukan oleh instrumen yang digunakan, sebab data yang diperlukan untuk menjawab pertanyaa penelitian (masalah) dan menguji hipotesis  diperoleh melalui instrumen. Instrumen sebagai alat pengumpul data harus betul-betul empiris sebagaimana adanya.
Tes adalah alat pengukur yang berharga bagi peneitian pendidikan. Tes ialah seperangkatseperangkat rangsangan (stimulus) yang diberikan kepada seorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban-jawaban yang dapat di jadikan dasar bagi penetapan skor angka.














DAFTAR PUSTAKA
Arief Furchan M.A, PHD.2007. Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan.    Pustaka Pelajar. Yogyakarta
Diknas.2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga. Balai Pustaka. Jakarta
S. Margono, Drs.2005. Metodologi Penelitian Pendidikan.Pt Rineka Cipta. Jakarta
Suharsimi arikunto, Prof. Suahrdjono,Prof, Supardi, Prof. 2009. Penelitian Tindakan Kelas.  Bumi Aksara. Jakarta
Nana sayodikh. 2009. Metodologi penelitian tindakan kelas.. Rosda karya.bandung.
Nana sudjana, Dr dan Dr. Ibrahim, M.A.2007.Penelitian Dan Penilaian Pendidikan.Bandung. Sinar Baru Algesindo
Sukardi, Prof. 2008. Metodologi Penelitian Pendidikan, kompetensi dan praktinya. PT. Bumi Aksara. Jakarta.