Rabu, Oktober 03, 2012

ULAMA

ULAMA
M. Nanang Qosim
1.    PENDAHULUAN
Ulama  yang  secara  leksikal  berarti  orang  yang  berpengetahuan    mempunyai kedudukan  yang  sangat penting  dan  strategis  dalam  masyarakat  Islam.  Kedudukannya yang  sangat  penting  tersebut,  tidak  saja  dikarenakan  fungsinya  sebagai  tempat  rujukan masyarakat  dalam  menghadapi  berbagai  persoalan  keagamaan  yang  mereka  hadapi, akan  tetapi  pada  masyarakat  tertentu  dan  pada  masa  tertentu  ulama  pun  mempunyai peran  yang  cukup  significan  dalam  masalah-masalah  sosial,  politik,  maupun kenegaraan.
Pentingnya  kedudukan  ulama  dalam  masyarakat  Islam  tersebut  pada  awalnya dilandasi  oleh  keterangan    dari    teks-teks  al-Quran  dan  al-Hadits.  Kemudian kandungan  dari  teks-teks  tersebut  menjadi  filosofi  dan  norma  yang  dianut  oleh masuarakat Islam sejak sepeninggalnya Rasulullah sampai sekarang. Di  dalam    Al-Quran  banyak  sekali  ayat-ayat  yang  menerangkan  kedudukan ulama di  sisi  Allah.  Dalam    surat  al-Mujadalah  Allah  SWT  berfirman  : “  Allah  akan mengangat  orang-orang  yang  beriman  dan  orang-orang  yang  berilmu  lebih  tinggi beberapa derajat “ . Bahkan dalam surat  Ali Imran ayat 18, Allah SWT menyebut diri-Nya  bersama  para  malaikat  dan  orang-orang  yang  berilmu    dalam  persaksian  akan keesaan-Nya.
Demikian  juga  banyak  sekali  hadits-hadits  nabi  yang  menjelaskan  tingginya kedudukan  ulama.  Salah satu  teks    yang  mendukung  posisi  di  atas  adalah  hadits nabi yang  berbunyi  ‘Innal  ‘Ulama  waratsah  al-anbiya ‘  (  sesungguhnya  ulama  adalah pewaris  para  nabi  ).  Menurut  Ibn  Hajar  Al-Atsqalani (773  -  852  ),  dalam Fath  al- Bary, hadits tersebut adalah  hadits yang ditemukan dalam beberapa kitab hadits, antara lain  dalam  kitab-kitab  Abu  Dawud,  Al-Turmudzy  dan  Ibnu  Hibban.  Hadits  ini dipandang shahih oleh  Al-Hakim, hasan oleh  Hamzah  Al-Kinany,  dan  dilemahkan oleh  para ulama  hadits  lainnya,  disebabkan  karena idhtirab,  kekacauan  dan kesimpangsiuran para perawinya. ( Ibn Hajar, 1959 : 169 )
Imam    Bukhari  menulis    hadits  di  atas  di  dalam  sahihnya,  tetapi  beliau  tidak menyatakan  bahwa  ungkapan  tersebut  adalah  hadits  Nabi  saw.  Pencantumannya  pada kitab tersebut  memberi arti bahwa ungkapan tersebut mempunyai dasar yang diperkuat oleh  al-Quran  dengan  firman Allah  : Kemudian K ami wariskan  al-Kitab  kepada  yang Kami pilih dari hamba-hamba Kami ( Q.S 35 : 32 )
Untuk  mengetahui  siapakah  ulama  itu,  sebaiknya  kita membuka  lembaran  Al-Quran  dan  hadits.  karena  keduanya  banyak  membicarakan  hal  itu. Kata ‘ulama disebutkan  di  dalam  Al-Quran sebanyak  dua  kali. Pertama, dalam konteks ajakan  Al-Quran  untuk  memperhatikan  turunnya  hujan  dari  langit,  beraneka  ragamnya  buah-buahan,  gunung, binatang  dan  manusia  yang  kemudian  diakhiri  dengan  firmannya, Sesungguhnya yang takut kepada Allah di  antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. (  Q.S  35 : 28  ) Ayat  ini menggambarkan bahwa  yang dinamakan ulama adalah  orang-orang  yang  memiliki  pengetahuan  tentang  ayat-ayat  Allah  yang  bersifat  kauniyah. Kedua,  dalam  konteks  pembicaraan  Al-Quran  yang  kebenaran  kandungannya  telah diakui oleh ulama Bani Israil ( Q.S 26 : 197 )
Berdasarkan  ayat  di  atas  dapat  disimpulkan  bahwa  yang  dinamakan  ulama menurut  Al-Quran  adalah  mereka  yang  mempunyai  pengetahuan  tentang  ayat-ayat Allah,  baik  yang  bersifat kauniyah maupun quraniyyah,  dan  dengan  pengetahuan tersebut mereka mempunyai sifat khosyyah dan taqwa.
2.    BATASAN MASALAH
Hadits-hadits  nabi    yang  berkaitan  dengan  masalah  ulama  cukup  banyak ragamnya,  seperti  yang  berkaitan  dengan    kedudukannya,  karakteristiknya,  dan  tugas-tugasnya.  Karena  begitu  banyaknya  hadits-hadits yang  berkaitan dengan  ulama  dalam berbagai  aspeknya, maka pada   makalah ini penulis  hanya akan mencoba mengungkap salah satu aspek saja, yaitu bagaimana karakteristik-karakteristik ulama menurut hadits nabi.  Semua  hadits  nabi    yang  berkaitan  dengan  ulama  dikumpulkan  kemudian diklasifikasi  berdasarkan  masalahnya.  Setelah  itu  dianalisis  dan  dikaitkan  dengan masalah-masalah  yang  berkembang  sekarang.  Perlu  diketahui  pula  bahwa  dalam makalah  ini  tidak  dimasukkan  semua  hadits  yang  berkaitan  dengan  karakteristik ulama.  Pemakalah  hanya  membatasi  sebanyak  10  hadits  yang  dianggap  penting  dan mewakili.
3.    KARAKTERISTIK-KARAKTERISTIK  ULAMA  MENURUT  HADITS  NABI  DAN  UPAYA RELEVANSINYA
3.1.    Ulama yang mengamalkan ilmunya
1)    Bersabda Rasulullah SAW  :  “Orang  ‘alim,  ilmu,  dan  amal  ada di dalam  surga.  Jika seorang  ‘alim  tidak  mengamalkan  apa  yang  diketahuinya  maka  ilmu  dan  amalnya berada di surga,  sedangkan orang ‘alim tersebut ada di  dalam neraka “. (H.R Dailami )
2)    Bersabda  Rasulullah  SAW  : “  Seseorang  tidak  dikatakan  ‘alim  sebelum  dia melaksanakan apa yang diketahuinya “. ( H.R  Baihaqi dari Abi Darda )
3)    Bersabda Rasulullah  SAW : “ Di akhir  zaman akan ada para ahli ibadah yang bodoh dan para ulama yang fasik “. ( H.R  Hakim dari Anas )
4)    Bersabda Rasulullah SAW : “ Ilmu itu ada dua. Pertama ilmu di lisan.  Itu merupakan hujjah  Allah  pada  makhluknya.  Dan  kedua  ilmu  dalam  hati.  Itulah  ilmu  yang bermanfaat “. ( H.R Tirmidzy dari Jabir )
Kemampuan  seorang  ‘alim  untuk  melaksanakan  apa  yang  diketahuinya merupakan  indikasi  bahwa  pengetahuannya  tersebut  masuk  ke  dalam  hatinya.  Amal merupakan  buah  dari  ilmu.  Ilmu  dapat  dilihat  berbuah  atau  tidak  melalui  amal.  Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diwujudkan dengan amal perbuatan.
Seperti  telah  dijelaskan  pada  pendahuluan,  bahwa  yang  dimaksud  dengan ‘ulama  menurut  Al-Quran  adalah  mereka  yang  mempunyai  pengetahuan  apa  saja tentang  ayat-ayat  Allah  dan    dibarengi  dengan  sifat  khosyyah.    Maka  yang  dimaksud dengan ilmu yang bermanfaat  adalah ilmu apa saja yang dengannya   dapat menjadikan seorang ‘alim lebih merasa takut dan taqwa kepada Allah. Ilmu yang dimilikinya dapat bermanfaat bagi dirinya  dan juga bermanfaat  bagi orang  lain. Ilmu tersebut bermanfaat bagi dirinya, apabila dia mampu melaksanakan; sedangkan bermanfaat bagi orang lain,apabila ilmu tersebut mampu menunjukkan orang lain kepada jalan kebaikan.
3.2.    Bersifat Wara
5)    Bersabda Rasulullah SAW  : “  Yang  celaka dari  ummatku  adalah  seorang  ‘alim  yang suka  maksiat  serta  seorang  abid  yang  bodoh.  Sejahat-jahatnya  orang  jahat  adalah orang  jahat  dari  kalngan  ulama.  Dan  sebaik-baiknya  orang  baik  adalah  orang  yang paling baik dari kalangan ulama “. ( H.R darimi dari Akhwash )
6)    Bersabda R asulullah  SAW  : “Sifat  adil  itu   baik,  tetapi  lebih  baik  jika  dimiliki oleh para  penguasa;  sifat  pemurah  itu  baik,  tetapi    lebih  baik  jika  dimiliki  oleh  para hartawan;  sifat  wara  itu  baik,  tetapi lebih  baik  jika dimiliki  oleh para  ‘ulama;  sabar itu baik, tetapi  lebih baik  jika dimiliki oleh  kaum papa; bertaubat itu baik,  tetapi lebih baik  jika  dimiliki  oleh  para  pemuda;  dan  pemalu  itu  baik,  tetapi  lebih  baik  jika dimiliki oleh kaum  perempuan “. ( H.R Dailami dari Umar )
Sifat wara merupakan  sifat  yang  harus selalu  melekat pada diri seorang  ulama. Wara  adalah  kemampuan  seorang  ‘alim  untuk  selalu  menjaga  diri  dari  kemungkinan terjerumus  pada  perbuatan-perbuatan  tercela.  Seorang  ‘alim  yang  melaksanakan ilmunya  dia  akan  bersifat  wara.  Dalam  hadits  di  atas  dijelaskan  bahwa  sifat  wara  itu baik,  akan  tetapi  lebih  baik  lagi  jika  dimiliki  oleh  ulama.  Pentingnya  seorang  ulama memiliki  sifat  wara  ini,  karena  ulama  merupakan  panutan  masyarakat.  Semua perbuatan  dan  tingkah  lakunya  akan  selalu  diperhatikan  dan  diikuti  oleh  ummatnya. Sehingga jika dia salah maka ummatpun akan mengikutinya.
3.3.    Tidak Ambisi terhadap Harta dan Kekuasaan
7)    Bersabda  Rasulullah  SAW  : “  Sejahat-jahatnya  ulama  adalah  ulama  yang mendatangi  penguasa.  Dan  sebaik-baiknya  penguasa  adalah  mereka  yang mendatangi ulama ". ( H.R Ibnu Majah dari Abu Hurairah )
8)    Bersabda Rasulullah SAW : “Para  ulama adalah  kepercayaannya  para  rasul selama mereka  tidak  berkecimpung  dengan    kekuasaan  serta  memasuki  keduniaan.  Jika mereka  berkecimpung  dengan  urusan  kekuasaan  serta  memasuki  urusan  keduniaan, maka mereka  telah mengkhianati       para rasul. Oleh karena itu hati-hatilah terhadap mereka. ( H.R Al-’Aqili dari Anas )
Hadits  di  atas  memberi  pengertian  kepada  kita  bahwa  diantara  karakteristik ulama adalah tidak    ambisi terhadap harta dan kekuasaan. Ungkapan “selama  dia  tidak bergaul dengan penguasa  dan  memasuku  urusan keduniaan “.  Kalau kita  mengambil pengertian  seperti  di  atas,  bagaimana  kalau  seorang  ulama  datang  kepada  penguasa dalam  rangka  membicarakan  ummat  atau  untuk  menasihati  penguasa  yang bersangkutan.  Hal  ini  tentunya bukan merupakan  perbuatan  terlarang  dan  bahkan  bisa dianggap  sebagai  perbuatan  terpuji.  Dan  dari  segi  lain  perbuatan  tersebut  jelas menguntungkan  ummat.  Kalau  seorang  ulama  tidak  mau  datang  kepada  penguasa dengan  alasan  hadits  di  atas,  maka  untuk  masa  sekarang  ini  akan  sangat  merugikan ummat  Islam  pada  umumnya.  Pemakalah  lebih  setuju  jika  ungkapan  di  atas diterjemahkan dengan  “ tidak  berambisi  pada  persoalan  kekuasaan  dan harta benda “.  Sebab  perbuatan ambisi  ini  dapat  menjerumuskan  seseorang  untuk  berbuat yang tidak terpuji.
3.4.    Ikhlas dalam beramal dan tidak bersifat dengki
9)    Bersabda Rasulullah SAW : “Janganlah kamu mempelajari ‘ilmu untuk merendahkan ‘ulama  serta  membingungkan  masyarakat  sehingga  arah  manusia  akan  berbalik padamu.  Maka  barang  siapa  yang  berbuat  demikian  ia  berada  dalam  neraka  “. ( H.R Ibnu Majah dari Jabir )
Ilmu  yang  dimiliki  oleh  seorang  ‘alim  hendaklah  digunakan  untuk  tujuan-tujuan  kebaikan  ummat,  bukan  hanya  untuk  kebaikan  bagi  dirinya  sendiri.  Seorang ‘alim  hendaklah  memanfaatkan  ilmunya  bukan  untuk  memperoleh  popularitas,  dan bukan pula untuk menyaingi sesama ulama lainnya.
3.5.    Bersikap amanah dalam menyampaikan ilmu
10)    Bersabda Rasulullah SAW :“  Barang siapa  yang ditanya  tentang  suatu pengetahuan kemudian  dia  menyembunyikannya,  dia  pada  hari  kiamat  akan  dikendalikan  dengan kendali dari neraka “. ( H.R Abu Dawud dari Tirmidzy )
Seorang  ‘alim  hendaklah  menyampaikan  pengetahuan  yang  ia  ketahui  kepada orang lain yang membutuhkannya. Pengetahuan adalah anugrah Allah yang merupakan milik  ummat.  Semua manusia  berhak  untuk  menikmati  dan  mendapatkan  petunjuk dari  ilmunya  seorang  ulama.  Berdasarkan  hadits  di  atas  bahwa  seorang  ulama  yang menyembunyikan  ilmunya  maka Allah  SWT  akan  mengendalikannya  dengan  kendali api neraka di akhirat nanti. ( H.R Abu Dawud dari Tirmidzy )
4.    KESIMPULAN
Dengan  melihat  beberapa  hadits  Rasulullah  di  atas  kita  bisa  melihat  bahwa karakteristik- karakteristik ulama adalah sbb :
1.    mengirinya  ilmu yang diketahuinya dengan perbuatan-perbuatan nyata
2.    bersikap wara
3.    tidak ambisi pada kekuasaan dan harta dunia
4.    bersikap ikhlas dan tidak dengki
5.    bersikap amanah dalam menyampaikan ilmu






DAFTAR PUSTAKA
Bukhary ( 1996 ) Shahih Bukhari, Beirut : Darul-Fikr
Ghazali,  Abu  Hamid  Muhammad  bin  Muhammad Ihya  ‘Ulum  al-Din, Juz  I Beirut  : Darul-Fikr.
Hasyimy  bek  ,  Ahmad    (  1948  )  Mukhtaru  al-Ahadits  Nabawiyyah  wal  Hikam  al-Muhammadiyyah. Indonesia : Maktabah Dar al-Ihya al-Kutub al-’Arabiyyah.
Nawawy,  Muhyiddin  Abi  Zakaria  Yahya  (  1938  )  Riyadush  Sholihin  min  Kalamil-
Mursalin, Mesir : Mustafa al-Baby al-Halaby
Quraish Shihab ( 1995 ) Membumikan Al-Quran, Bandung : Mizan