Rabu, Oktober 03, 2012

Penggunaan Pendekatan filosofis, historis, semiotik, dan fenomologi sebagai sarana menafsirkan wahyu di era postmodern

 Penggunaan Pendekatan filosofis, historis, semiotik, dan fenomologi
sebagai sarana menafsirkan wahyu di era postmodern
Muhammad Nanang Qosim

A. PENDAHULUAN
Ketika pluralisme agama semakin didasari oleh banyak tokoh agama, entah lewat perkembangan pengetahuan, peradaban bangsa–bangsa atau yang lainnya, banyak pemikir agama islam mulai menaruh minat pada metodologi studi islam. Dari metode-metode itu ada yang bersifat a priori dan metafisik.
Kritik agama yang bersifat metafisik ini kemudian diimbangi oleh umat agama dari jurusan lain, yakni yang dikembangkan oleh ilmu antropologi, historis, fenomenologi, filosofis, semiotika, sosiologi dll. Dari kelompok studi ini dengan dibandingkan dengan kelompok lain ialah karena mereka lebih tertarik pada praktik–praktik peribadatan, ritus, upacara–upacara yang konkret.
Metodologi studi Islam merupakan suatu usaha yang sistematis dalam membentuk manusia–manusia yang bersikap, berfikir, dan bertindak sesuai dengan ketentuan–ketentuan yang digariskan oleh agama Islam untuk keselamatan dan kebahagian hidupnya di dunia maupun di akhirat.
Maka perlu ada pengkajian dalam pendekatan islam pada era postmodern pada saat ini. Permasalah-permasalan yang muncul akibat zaman yang bergulir cepat dan analisis masalah-masalah keagamaan pada era saat ini masih tergolong tradisional.
B. PERMASALAHAN
1. bagaimana pendekatan filosofis, pendekatan historis, pendekatan semiotika dan pendekatan fenomenologi?
2. Apa tujuan dari pendekatan-pendekatan tersebut?



C. PEMBAHASAN
1. Pengertian
a) Pendekatan Filosofis
Kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. Selain itu filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Dalam kamus umum Bahasa Indonesia, Poerwadarminta mengartikan filsafat sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenal sebab-sebab, asas-asas, hukum dsb terhadap segala yang ada di alam semesta ataupun mengenai kebenaran dan arti “adanya” sesuatu. Pengertian filsafat pada umumnyadikemukakan oleh Sidi Galzaba. Menurut beliau filsafat adalah berpikir secara mendalam, sistematik, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada.
Definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa filsafat berupaya menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik formatnya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas dan inti yang terdapat di balik yang bersifat lahiriah. Sebagai contoh, kita sering menjumpai berbagai merk pulpen dengan kualitas dan harganya yang berlainan, namun inti semua pulpen adalah sebagai alat tulis.[1]
Berdasarkan pendekatan filosofis, Pendidikan Islam dapat diartikan sebagai studi proses tentang kependidikan yang didasari dengan nilai-nilai ajaran Islam menurut konsepsi filosofis, bersumber kitab suci Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Pendekatan filosofis ini memandang bahwa manusia adalah makhluk rasional atau “homo rational” sehingga segala sesuatu yang menyangkut pengembaangannya didasarkan kepada sejauh manan pengembangan berfikir dapat dikembangkan.
Dalam proses belajar mengajar, pendekatan filosofis dapat diaplikasikan ketika guru mengajar. Contohnya pada pelajaran mengenai proses terjadinya penciptaan alam, atau pada proses penciptaan manusia berasal, bagaimana proses kejadiannya sampai pada terciptanya bentuk manusia. Hal ini terus berlangsung sampai batas maksimal pemikiran manusia (hingga pada zat yang tidak dapat dijangkau oleh pemikiran, yaitu Allah SWT).
Dalam hal ini, Al-Qur’an benar-benar memberikan motivasi kepada manusia untuk selalu menggunakan pikirannya (rasio) secara tepat guna untuk menemukan hakikatnya selalau hamba Allah SWT, selaku makhluk sosial dan selaku khalifah di bumi.
Pendekatan filosofis, Al Qur’an memberikan konsep secara konkrit dan mendalam. Terbukti dengan adanya pengahrgaan Allah SWT kepada manusia yang selalu menggunakan pemikiran (rasio). Ungkapan penghargaan tersebut terulang sebanyak 780 kali salah satu diantaranya adalah surat Al Baqarah: [2]: 269:[2][3]
b) Pendekatan Historis
Sejarah atau historis adalah suatu ilmu yang di dalamnya dibahas berbagai peristiwa dengan memperhatikan unsur tempat, waktu, objek, latar belakang, dan pelaku dari peristiwa tersebut. Menurut ilmu ini, segala peristiwa dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, dimana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Melalui pendekatan sejarah seseorang diajak menukik dari alam idealis kea lam yang bersifat empiris dan mendunia. Dari keadaan ini seseorang akan melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara yang terdapat dalam idealis dengan yang ada di alam empiris dan historis.
Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena itu sendiri turun dalam situasi yang konkrit bahkan berkaitan dengan kondisi social kemasyarakatan. Dalam hubungan ini, Kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini Islam, menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari Al-Qur’an, ia sampai pada dasarnya kandungan Al-Qur’an, yaitu terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, berisi konsep-konsep dan bagian kedua, berisi kisah-kisah sejarah dan perumpamaan.
Dalam bagian pertama yang berisi konsep-konsep, kita mendapati banyak sekali istilah Al-Qur’an yang merujuk kepada pengertian-pengertian normative yang khusus, doktrin-doktrin etik, dan ajaran-ajaran keagamaan pada umumnya. Pernyataan-pernyataan itu mungkin diangkat dari konsep-konsep yang telah dikenal oleh masyarakat Arab pada waktu Al-Qur’an diturunkan atau bisa jadi istilah-istilah baru yang dibentuk untuk mendukung adanya konsep-konsep religious yang ingin diperkenalkannya. Yang jelas, istilah-istilah itu kemudian diintregasikan ke dalam pandangan dunia Al-Qur’an, dan demikian lalu menjadi konsep-konsep yang otentik.
Dalam bagian pertama ini kita mengenal banyak sekali konsep, baik yang bersifat abstrak maupun konkret. Konsep tentang Allah SWT, konsep tentang malaikat, tentang akhirat, tentang ma’ruf, munkar dan sebagainya adalah konsep-konsep abstrak. Sementara itu juga ditunjukkan konsep-konsep yang lebih menunjuk kepada fenomena konkret dan dapat diamati (observable), misalnya konsep tentang fuqara’ (orang-orang fakir), dhu’afa (orang lemah), mustadl’afin (kelas tertindas), dan sebagainya.
Jika pada bagian yang berisi konsep-konsep Al-Qur’an bermaksud membentuk pemahaman yang komprehensif mengenai nilai-nilai Islam, maka pada bagian kedua yang berisi kisah-kisah dan perumpamaan, Al-Qur’an ingin mengajak melakukan perenungan untuk memperoleh hikmah. Melalui kejadian-kejadian historis dan juga melalui kiasan-kiasan yang berisi hikmah tersenbunyi, manusia diajak merenungkan hakikat dan makna kehidupan.
Melalui pendekatan sejarah ini seseorang diajak untuk memasuki keadaan yang sebenarnya berkenaan dengan penerapan suatu peristiwa. Dari sini seseorang tidak akan memahami agama keluar dari konteks historisnya, karena pemahaman demikian itu akan menyesatkan orang yang memahaminya.[4]
Menurut buku Fenomenologi Agama historis adalah studi mengenai rangkaian ungkapan-ungkapan khusus, yang tidak dapat ditarik kembali, di mana ungkapan-ungkapan yang lebih akhir secara kumulatif dipengaruhi yang lebih dahulu. Pendekatan historis bisa dicapai melalui usaha memahami ungkapan-ungkapan itu dengan cara menghubukannya dengan konteks sejarah mereka dan memahami seluruh konteks dengan cara berpindah dari satu ungkapan ke ungkapan yang lain.
c) Pendekatan Semiotika
Merupakan suatu pendekatan atau metode analisis untuk merujuk pada bidang studi yang mempelajari makna arti dari suatu tanda atau lambang.[5] Dari pengertian tersebut yang perlu digarisbawahi yaitu bahwa para ahli melihat pendekatan semiotika merupakan suatu ilmu pendekatan atau proses yang berhubungan dengan tanda. Namun jika kita perhatikan, definisi yang diberikan nampaknya terlalu luas.
Kata “semiotika” itu sendiri berasal dari bahasa Yunani, semion yang berarti “tanda” atau seme yang berarti penafsir tanda. Semiotika berakar dari studi klasik dan skolastik atas seni logika, retorika, dan poetika. “Tanda” pada masa itu masih bermakna sesuatu hal tang menunjuk pada adanya hal lain.
Sebagaimana halnya para ahli semiotika membedakan tingkatan hubungan semiotika yaitu tataran sintaktik (sintactic level), tataran semantik (semantic level), tataran prakmatik (pracmatic level).
Selain itu terdapat tiga macam inkuiri semiotika yaitu semiotika murni (pure), deskrpsiptif (dercriptive), dan terapan (applied).
Semiotika murni berkenaan dengan desain metabahasa, yang seharusnya mampu membicarakan setiap bahasa yang menjadi objek semiotika. Karena sumbangannya bagi semiotika murni, seseorang mungkin menyebut karya.
d) Pendekatan Fenomenologi
Merupakan studi pendekatan agama dengan cara membandingkan berbagai macam gejala dari bidang yang sama antara berbagai macam agama.[6] Pengikut fenomenologi agama menggunakan perbandingan sebagai sarana interpretasi yang utama untuk memahami arti dari ekspresi-ekspresi religious, seperti korban, ritus, dewa-dewa, dan lain sebagainya.
Satu fenomena religious yang khusus tidaklah harus dianggap seolah hanya mempunyai satu arti; mungkin saja dan sungguh-sungguh mempunyai banyak arti bagi partisipan yang berbeda dalam tindak religious. Dengan menghubungkan apa yang dipahami oleh masing-masing partisipan, fenomenologi menerima suatu pemahaman diatas pemahaman banyak individu partisipan.
Metode fenomenologi tidak hanya menghasilkan suatu deskripsi mengenai fenomena yang dipelajari, sebagaimana sering diperkirakan, tidak juga bermaksud menerangkan hakikat filosofis dari fenomena itu.[7]





2. Tujuan dari beberapa Pendekatan
a. Pendekatan Filosofis
• Agar seseorang dapat menggunakan pemikiran atau rasio seluas-luasnya sampai titik maksimal dari daya tangkapnya. Sehingga seseorang terlatih untuk terus berfikir dengan menggunakan kemampuan berfikirnya.
• Dapat digunakan dalam memahami agama, dengan maksud agar mendapatkan hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama, agar dapat dimengerti dan dipahami secara seksama.
• Agar seseorang merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan dengan orang lain.[8]
b. Pendekatan Historis
• Seseorang dapat melihat adanya kesenjangan atau keselarasan antara alam idealis dengan alam empiris dan historis.
• Untuk mengenali berbagai macam konsep, baik yang bersifat abstrak maupun konkret yaitu konsep tentang Allah, konsep tentang malaikat, konsep hari akhir dll.[9]
c. Pendekatan Semiotika
• Untuk menunjukkan bagaimana terbentuknya tanda-tanda beserta kaidah-kaidah yang mengatur agama Islam.
• Mengajarkan kita bagaimana menguraikan aturan-aturan dalam agama Islam dan membawanya pada sebuah kesadaran.[10]


d. Pendekatan Fenomenologi
• Untuk menginterprestasikan suatu teks berkenaan dengan persoalan agama dengan setepat-tepatnya.
• Untuk merekonstruksi suatu kompleks tempat suci kuno atau menerangkan permasalahan suatu cerita dari mitos.
• Untuk menerangkan pokok-pokok dari praktik-praktik religious dan upacara-upacara orang-orang primitive.
• Untuk memahami struktur dan organisasi dari suatu kelompok masyarakat religious dengan kehidupan sekitar.[11]
3. Tokoh-tokoh dari berbagai pendekatan
a) Pendekatan Filosofis
Dari pendekatan filosofis tokohnya yaitu Muhammad Al-Jurjawi yang berjudul “Hikmah Al-Tasyri’ wa falsafatuuhu” selain itu pula Louis O. Kattsof yang mengatakan bahwa kegiatan kefilsafatan adalah merenung.[12]
b) Pendekatan Historis
Salah satu tokoh dari pendekatan historis adalah Kuntowijoyo yang telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam.[13]
c) Pendekatan Semiotika
Beberapa tokoh pendekatan semiotika yaitu :



1. Charles Sanders Peirce
Adalah salah seorang filosof Amerika yang paling orisinal dan multidimensional yang lahir dalam sebuah keluarga intelektual pada tahun 1839.
2. Ferdinand de Saussure
Ferdinand de Saussure terkenal teori semiotikanya dengan tanda. Beliau berasal dari Swiss.
3. Roman Jakobson
Roman Jakobson adalah salah satu dari beberapa ahli semiotik dibidang linguistic pada abad kedua puluh.
d) Pendekatan Fenomenologi
Tokoh tokoh pendekatan fenomenologi yaitu
1. Husserl (1859-1939), yang memperkembangkan aliran ini sebagai cara atau metode pendekatan dalam pengetahuan agama islam.
2. Profesor G. van der Leeuw (1933) yaitu dengan menerbitkan buku “Phanomenologie der Religion”.[14]
4. Contoh- contoh dari berbagai pendekatan
a. Pendekatan Filosofis
Sebagai mahasiswa setiap harinya kita jumpai berbagai merk pulpen dengan kualitas dan harganya yang berlain-lainan, namun inti semua pulpen itu adalah alat tulis. Ketika disebut alat tulis, maka tercakuplah semua nama dan jenis pulpen.

b. Pendekatan Historis
Seseorang yang ingin memahami Al-qur’an secara benar misalnya, yang bersangkutan harus mempelajari turunnya Al-qur’an atau kejadian-kejadian yang mengiringi turunnya Al-qur’an yang selanjutnya disebut sebagai Ilmu Asbab al-Nuzul (Ilmu tentang Sebab-sebab Turunnya Al-qur’an) yang pada intinya berisi sejarah turunnya ayat Al-qur’an.
c. Pendekatan Semiotika
Asap menandai adanya api.
d. Pendekatan Fenomenologi
Cara penerimaan penganut, doa-doa, inisiasi, upacara pengguburan dan sebagainya.
D. KESIMPULAN
Dari makalah yang sudah dijelaskan di atas tersebut dapat disimpulkan bahwa:
1. Pengertian
a) Pendekatan Filosofis
Berupaya menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik formatnya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas dan inti yang terdapat di balik yang bersifat lahiriah.
b) Pendekatan Historis
Dapat disimpulkan bahwa pendekatan historis adalah segala peristiwa yang dapat dilacak dengan melihat kapan peristiwa itu terjadi, dimana, apa sebabnya, siapa yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
c) Pendekatan Semiotika
Merupakan suatu ilmu pendekatan atau proses yang berhubungan dengan tanda.
d) Pendekatan Fenomenologi
Merupakan studi pendekatan agama dengan cara membandingkan berbagai macam gejala dari bidang yang sama antara berbagai macam agama.
2. Tujuan dari beberapa pendekatan
a) Pendekatan Filosofis
 Agar seseorang dapat menggunakan pemikiran seluas-luasnya sampai kepada titik maksimal dari daya tangkapnya
 Dapat digunakan dalam memahami agama
 Agar merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan
b) Pendekatan Historis
 Agar melihat adanya kesenjangan atau keselarasan
 Untuk mengenali berbagai macam konsep
c) Pendekatan Semiotika
 Untuk menunjukkan tanda-tanda/kaidah-kaidah
d) Pendekatan Fenomenologi
 Untuk menginterprestasikan suatu teks
 Untuk merekonstruksi suatu kompleks
 Untuk menerangkan pokok-pokok
 Untuk memahami struktur dan organisasi
3. Tokoh dari berbagai pendekatan
a) Pendekatan Filosofis
 Muhammad Al-Jurjawi
 Louis O. Kattsof
b) Pendekatan Historis
 Kuntowijoyo
c) Pendekatan Semiotika
 Charles Sanders Peirce
 Ferdinand de Saussure
 Roman Jakobson
d) Pendekatan Fenomenologi
 Husserl
 Profesor G. van der Leeuw
4. Contoh-contoh dari berbagai pendekatan
a) Pendekatan Filosofis
 Berbagai merk pulpen dengan kualitas dan harganya yang berlainan
b) Pendekatan Historis
 Seseorang yang ingin memahami Al-qur’an
c) Pendekatan Semiotika
 Asap menandai adanya api
d) Pendekatan Fenomenologi
 Upacara penguburan
E. PENUTUP
Demikianlah makalah yang dapat penulis paparkan. Penulis sadar makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif demi perbaikan makalah selanjutnya. Penulis minta maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan dan isi.
Akhirnya segala puji bagi Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat-Nya dan menerangkan pikiran-pikiran kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan para pembaca. Amiiiiin….
DAFTAR PUSTAKA
Arief, Armai. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Pers. 2002.
Dhavamony, Mariasusai. Fenomenologi Agama. Yogjakarta: Kanisius. 1995.
Nata, Abuddin. Metodologi Studi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2004.
Sirozi, M., dkk. Arah Baru Studi Islam Indonesia Teori dan Metodologi. Yogjakarta: Ar-Ruzz Media Group. 2008.
Sobur, Alex. Semiotika Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2006.

________________________________________
[1] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 42-43.
[2] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Ciputat Pres, 2002), cet.1. hlm. 100-101.
[3] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya. hlm: 43
[4] Abuddin Nata, Op cit, hlm. 46-48.
[5] Alex Sobur, Semiotika Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2006 ), cet. 3. hlm. 11.
[6] Mariasusai Dhafamony, Fenomenologi Agama, (Yogjakarta: Kanisius, 1995 ), cet 1. hlm. 7.
[7] Ibid, hlm. 42-43.
[8]Armai Arief, Op cit, hlm. 101.
[9] Abudin Nata, Op cit, hlm. 47.
[10] Alex Sobur, Op cit, hlm. 12.
[11] Mariasusai Dhafamony, Op cit, hlm. 31.
[12] Abuddin Nata, Op cit, hlm. 43.
[13] M. Sirozi, dkk, Arah Baru Studi Islam Indonesia Teori dan Metodologi, (Yogjakarta: Ar Ruzz Media,2008), cet. 1, hlm. 17-18.
[14] Mariasusai Dhafamony, Op cit, hlm. 42.