Sabtu, September 26, 2009

KONFLIK ANTARA WARGA ISRAEL DAN ARAB-ISRAEL

Israel adalah salah satu negara di Timur Tengah yang memiliki problem integrasi baik problem integrasi sentrifugal maupun problem integrasi sentripetal. Problem integrasi sentrifugal ditandai dengan tidak dianggapnya pemerintah Israel oleh warga Palestina sedangkan problem integrasi sentripetal ditandai dengan banyaknya pertikaian di kalangan masyarakat, terutama antara warga Palestina dengan warga Israel.
Tapi, sebenarnya ada satu faktor lagi yang kadang terlupakan, yaitu konflik di antara warga Yahudi-Israel dengan warga Arab-Israel. Konflik dan masalah integrasi sentripetal yang ditimbulkannya inilah yang akan diangkat oleh tulisan ini.

Arab-Israel
Setelah negara Israel berdiri pada tahun 1948, ada begitu banyak warga Palestina yang keluar dari wilayah pendudukan Israel dan mengungsi ke Tepi Barat, Jalur Gaza dan daerah-daerah lain yang (pada waktu itu) belum dikuasai Israel. Mereka inilah yang kemudian memperjuangkan kemerdekaan Palestina dan disebut sebagai warga Palestina. Akan tetapi, ada juga warga Palestina yang tidak ikut keluar dari wilayah Israel. Mereka sejak 1948 sampai saat ini masih tinggal di wilayah teritori Israel, bekerja di Israel dan memiliki status resmi sebagai warga negara Israel. Mereka inilah yang disebut sebagai “Arab-Israel.”

Integrasi Sentripetal di Israel
Integrasi Sentripetal adalah proses integrasi sesama warga dalam suatu negara. Di Israel, integrasi sentripetal berarti integrasi yang terjalin di antara dua komponen terbesar warganya, yaitu warga Israel keturunan Yahudi (Jewish origin) dan warga Israel keturunan Arab-Palestina (Arabs origin).
Sepintas, melihat bahwa ada warga negara Israel yang berbangsa Arab dan beragama Islam atau Kristen, kita akan menyangka bahwa Israel tidak mengalami masalah yang berarti dalam proses integrasi sentripetalnya. Problem integrasi Israel hanya terjadi antara warga Palestina (yang tinggal di Tepi Barat, Jalur Gaza dan daerah-daerah Palestina yang menjadi wilayah otoritas Palestina lainnya) dengan tentara Israel yang ingin memperluas pendudukannya.
Akan tetapi, pendapat itu salah. Konflik yang terjadi tidak hanya konflik antara warga Palestina dengan tentara Israel tetapi juga konflik antara warga Arab-Israel dengan warga Yahudi-Israel. Meskipun warga Arab-Israel telah berusaha sebisa mungkin untuk membaurkan diri dengan masyarakat Israel, yang mayoritas orang-orang Yahudi, namun mereka tetap merasa terasing.
Rasa keterasingan ini menuntun mereka untuk melepaskan ikatan dengan Israel dan menjalin kembali ikatan dengan warga Arab-Palestina. Bahkan, banyak warga Arab-Israel turut serta dalam aksi demonstrasi untuk membela nasib warga Arab-Palestina di kawasan Tepi Barat dan Jalur Gaza. Dalam demonstrasi yang terjadi setiap peringatan Hari Tanah ini mereka mengibarkan bendera Palestina dan meneriakkan yel-yel dan slogan yang mengecam pemerintah Israel.
Menurut para pengamat, pada demonstrasi yang berlangsung tahun 2001 ini sekitar 10 persen warga Arab-Israel menyatakan dukungannya pada gerakan Islam, kelompok di Israel yang kerap membantu Palestina. Bahkan aksi besar gerakan Islam tahun ini menyedot jumlah pendukung dua kali lipat dibandingkan setahun sebelumnya . Kenyataan ini, bahwa sebagian warga Arab-Israel mulai memperkuat dukungannya pada warga Palestina, menunjukkan bahwa proses integrasi sentripetal di Israel mengalami suatu masalah yang cukup berat.
Lalu, apa yang menyebabkan masalah integrasi sentripetal di Israel? Ternyata, setelah diturut, ada beberapa hal yang menyebabkan masalah dalam proses integrasi sentripetal di Israel, yaitu :
a. Latar belakang historis.
b. Perbedaan yang menyolok antara warga Yahudi dengan warga Arab-Israel.
c. Sikap pemerintah terhadap kelompok-kelompok di masyarakat.

Latar belakang historis
Permasalahan Israel-Palestina berakar dari perkembangan sejarah panjang yang dialami oleh dua bangsa di negeri ini, yaitu bangsa Arab dan bangsa Yahudi. Kehadiran pertama orang-orang Yahudi di tanah ini ialah sekitar tahun 1800 SM. Setelah sempat berhijrah ke Mesir selama beberapa abad lamanya, di bawah pimpinan Musa mereka keluar dari Mesir untuk kembali ke Palestina pada sekitar abad 12 SM. Dari keadaan yang lemah dan terpecah-belah, akhirnya warga Yahudi berhasil bersatu di bawah pimpinan Talut (Saul) dan membentuk sebuah kerajaan. Pada abad ke-10 SM, Daud putra Sulaiman mendirikan Kuil pertama di Jerusalem. Kerajaan Israel inilah, yang berlangsung selama kurang dari dua abad, yang telah meletakkan dasar religius dan emosional bagi kepentingan Yahudi di Palestina.
Sejak abad ke-8 sampai abad ke-7 SM, negeri itu berturut-turut dikuasai oleh Assiria, Babylonia, Persia, Yunani dan Romawi. Kuil-kuil Yahudi, termasuk Kuil pertama yang didirikan oleh Daud dihancurkan, sedang orang-orang Yahudi mengalami Diaspora. Pada tahun 395 M negeri ini menjadi bagian Imperium Kristen Romawi Timur. Pada masa itu orang Yahudi sudah merupakan minoritas kecil.
Pada tahun 634 M, Palestina jatuh ke tangan Muslimin Arab di bawah pimpinan Umar bin Khattab. Islampun berkembang pesat di Palestina dan sebagai akibatnya, penduduk Palestina saat itu merasa dirinya sebagai bagian dari dunia Arab. Terlebih lagi di sana terdapat Masjid al Aqsha yang merupakan tempat suci ketiga Islam setelah Masjid al Haram di Mekkah dan Masjid an Nabawi di Madinah. Pada abad-abad ke-12 dan ke-13 berlangsunglah Perang Salib yang dilancarkan oleh Gereja untuk merebut Palestina dari tangan orang-orang Islam tetapi tidak berhasil. Palestina tetap menjadi negeri Muslim Arab, baik di bawah pemerintahan Mameluk Mesir (1260-1517 M) ataupun di bawah pemerintahan Turki Utsmani (1517- PD I).
Latar belakang historis seperti di atas menyebabkan baik bangsa Yahudi maupun bangsa Palestina sama-sama merasa berhak atas tanah Palestina. Ini menyebabkan kedua bangsa tersebut sama-sama tidak mau mengalah dan tetap mengklaim bahwa Palestina, dan terutama lagi Jerusalem, adalah wilayah mereka. Perebutan wilayah inilah yang kemudian menjadi faktor utama bagi konflik Israel-Palestina.
Bagi warga Arab-Israel, permasalahan historis ini menjadi lebih dilematis. Saat ini, mereka hidup di Israel dan menjadi warga negara Israel. Akan tetapi, di sisi lain, mereka tidak bisa melupakan ikatan masa lalu mereka dengan warga Arab-Palestina yang selama ini terus berjuang demi kemerdekaan Palestina. Ikatan historis dengan warga Arab-Palestina inilah yang pada akhirnya menarik warga Arab-Israel untuk bersimpati pada warga Arab-Palestina dan, sebagai konsekuensinya, melemahkan integrasi antara warga Arab-Israel dengan warga Yahudi-Israel.

Perbedaan yang Menyolok antara warga Arab-Israel dan Yahudi-Israel
Selain disebabkan ikatan sejarah dengan warga Arab-Palestina, konflik antara warga Arab-Israel dengan warga Yahudi-Israel juga diperkuat dengan adanya banyak perbedaan di antara kedua masyarakat tersebut. Perbedaan-perbedaan itu di antaranya adalah :
a. Perbedaan Agama
Perbedaan agama yang dimiliki oleh warga Arab-Israel dan Yahudi-Israel, warga Arab-Israel mayoritas Muslim sedangkan warga Yahudi-Israel beragama Yahudi, menjadi faktor pendukung utama bagi lemahnya proses integrasi sentripetal Israel.
Ini disebabkan karena agama menjadi simbol utama pertentangan antara Israel dan Palestina. Berdasarkan ajaran agama Yahudi, warga Israel merasa mereka merupakan bangsa yang terpilih dan Palestina adalah tanah yang dijanjikan bagi mereka (the promised land). Di tanah yang dijanjikan itulah mereka akan mencapai kembali kejayaan mereka seperti saat mereka di bawah pimpinan Daud dulu. Dari klaim agama inilah gerakan Zionis tumbuh dan berkembang menjadi negara Israel seperti saat ini.
Di pihak lain, warga Palestina yang sejak tahun 1948 ditindas oleh penguasa Israel, mempergunakan agama Islam sebagai sarana mereka berjuang. Melalui jihad dan intifada, warga Palestina berusaha mendapatkan kembali tanah mereka yang diambil oleh Zionis. Kini, perang melawan bangsa Yahudi bukan lagi sekedar perang perebutan tanah atau sengketa biasa; kini perang melawan Yahudi sudah menjadi sebuah perang suci yang harus dilakukan oleh semua Muslim Palestina.
Dengan pemakaian klaim agama oleh kedua belah pihak, maka kembali masalah agama ini menjadi masalah yang dilematis bagi warga Arab-Israel. Mereka sekarang tinggal di Israel dan menjadi warga negara Israel. Akan tetapi, mereka juga Muslim dan mereka juga menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana Ariel Sharon “menodai” kompleks Al Quds, bagaimana para tentara Israel melecehkan masjid dan simbol-simbol Islam lainnya dan bagaimana nasib saudara-saudara mereka di Palestina, yang berusaha memperjuangkan kebebasan bagi tanah suci ketiga Islam, terus berjatuhan akibat peluru Israel. Pemandangan-pemandangan seperti ini membuat panggilan jihad menjadi sesuatu yang tidak dapat mereka abaikan begitu saja.
b. Perbedaan Bangsa
Perbedaan kebangsaan antara warga Arab-Israel yang berbangsa Arab dengan warga Yahudi-Israel yang berbangsa Yahudi juga menjadi salah satu faktor pendukung yang mempersulit timbulnya integrasi sentripetal di Israel.
Warga Arab-Israel yang berbangsa Arab, merasa lebih dekat dengan saudara-saudaranya warga Arab-Palestina dan negara-negara Arab lainnya, seperti Jordania atau Mesir, daripada dengan warga Yahudi-Israel. Kecenderungan ini juga diperkuat dengan sikap warga Yahudi-Israel yang selama ini menafikan keberadaan bangsa Arab di negara mereka.
Bentuk penafian warga Israel terhadap keberadaan bangsa Arab di tanah Palestina ini terbukti dengan prinsip dasar mereka bahwa negara Israel adalah negara Yahudi, berpenduduk Yahudi, berbahasa Yahudi dan beragama Yahudi. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki toleransi terhadap perbedaan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak bisa menerima warga negara Israel yang berbangsa Arab, berbahasa Arab dan beragama Islam atau Kristen.
c. Perbedaan Bahasa
Perbedaan bahasa yang dipakai oleh warga Arab-Israel dan Yahudi-Israel juga, warga Arab-Israel, meskipun sebagian besar menguasai bahasa Yahudi, akan tetapi kadang masih memakai bahasa Arab. Terlebih lagi, dalam demonstrasi memperingati Hari Tanah, warga Arab-Israel sering memakai bahasa Arab untuk mengecam pemerintah Israel. Bagi warga Arab-Israel, bahasa Arab bukanlah sekedar bahasa; bahasa Arab sudah menjadi suatu simbol, yaitu simbol dukungan mereka bagi perjuangan warga Palestina. Dan ini tidak bisa ditolerir oleh warga Yahudi-Israel.
d. Perbedaan Status Ekonomi
Perbedaan status ekonomi memperlengkap daftar panjang perbedaan yang ada di antara kedua masyarakat tersebut. Warga Yahudi-Israel, yang merupakan imigran dari negara lain, memiliki pekerjaan tetap dan penghasilan yang tinggi. Mereka juga menempati apartemen-apartemen yang mewah dan berfasilitas lengkap. Sebaliknya, warga Arab-Israel, yang merupakan penghuni asli tanah Palestina, sebagian besar memiliki penghasilan rendah. Bahkan, semenjak bangkitnya gelombang intifada kedua, kini makin banyak warga Arab-Israel yang menjadi pengangguran. Seorang warga Arab-Israel dapat langsung kehilangan pekerjaannya jika ia, atau salah seorang sanak keluarganya, dicurigai bersimpati terhadap gerakan rakyat Palestina.
Selain jadi pengangguran, banyak warga Arab-Israel yang kehilangan tempat tinggal mereka, sebagian besar karena dihancurkan dengan sengaja oleh tentara Israel untuk kemudian dibangun apartemen-apartemen bagi para pemukim Yahudi, dan sebagian lagi tanpa sengaja hancur terkena serangan roket atau tembakan tentara Israel. Dalam keadaan yang sangat menderita dan serba kekurangan seperti itu, mereka harus melihat para “tetangga” Yahudi mereka hidup dalam keadaan yang berlimpah-ruah. Ini tentu menyulut kebencian di dalam diri orang-orang Palestina dan semakin menjauhkan mereka dari proses integrasi dengan bangsa Yahudi.

Pemerintah
Faktor terakhir yang menyebabkan timbulnya masalah dalam proses integrasi warga Arab-Israel ke dalam masyarakat Israel adalah pemerintah Israel sendiri. Pemerintah Israel, sebagai badan yang memiliki otoritas dan kewenangan legalitas-formal di wilayah teritori Israel, seharusnya bisa menjadi penengah saat terjadi konflik antara warga Yahudi-Israel dengan warga Arab-Israel. Pemerintah Israel bisa menjadi penengah sekaligus pengokoh integrasi sentripetal di antara warganya. Akan tetapi, di sini kita bisa melihat bahwa pemerintah Israel tidak mau menengahi konflik tersebut. Bahkan, bisa dikatakan bahwa berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah Israel justru menyulut terjadinya konflik yang lebih besar, yang malah membawa masyarakat pada proses dis-integrasi.
Contoh yang mudah adalah sikap diskriminatif pemerintah Israel pada warga Arab-Israel saat mereka ingin menonton pertandingan liga sepakbola. Saat itu, pemerintah Israel dengan sengaja mencetak tiket yang berlainan warna bagi warga Yahudi dan warga Arab. Bahkan, lebih jauh lagi, para penonton yang berkebangsaan Arab juga harus masuk dari pintu yang berbeda .
Aksi yang lebih ekstrim lagi juga tercermin dari sikap pemerintah Israel yang tidak mau mengakui lebih dari 90.000 penduduk Arab di lebih dari 176 desa yang berada di wilayah Israel sebagai desa-desa resmi . Akibatnya, para penduduk Arab yang tinggal di “desa-desa bayangan” ini tidak diakui haknya oleh pemerintah Israel. Mereka tidak bisa bekerja, tidak bisa mendapatkan kewarganegaraan dan, pada akhirnya nanti, akan menjadi sasaran penggusuran oleh para pemukim Israel. Ini tentu menambah beban moral bagi warga Arab-Israel untuk menyatukan diri dengan warga Yahudi-Israel.

Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat kita ambil dari penjelasan di atas adalah bahwa meskipun ada banyak warga Arab yang tinggal di Israel dan menjadi warga negara resmi Israel tapi proses integrasi mereka ke dalam stuktur masyarakat Israel yang terdiri dari bangsa Yahudi, beragama Yahudi dan berbahasa Yahudi, sangat sulit terjadi. Ini menyebabkan integrasi sentripetal di Israel melemah dan bahkan mencapai tingkat berbahaya.
Ada begitu banyak faktor yang berpengaruh dalam melemahnya proses integrasi sentripetal di Israel, di antaranya adalah ikatan historis antara warga Arab-Israel dengan warga Palestina, perbedaan-perbedaan yang menyolok antara warga Arab-Israel dengan warga Yahudi-Israel dan terakhir adalah sikap pemerintah Israel yang sepertinya membiarkan perbedaan itu tetap ada di dalam masyarakat bahkan memperuncingnya dengan melakukan berbagai kebijakan yang diskriminatif. Faktor-faktor ini saling bertumpukan dan membentuk suatu fenomena sosial yang dinamakan consolidated social structure, yaitu suatu keadaan di mana perbedaan di antara dua kelompok masyarakat begitu banyak dan saling berhimpitan dan tidak ada satu persamaanpun yang bisa menyatukan keduanya.
Warga Arab-Israel adalah bangsa keturunan Arab, beragama Islam atau Kristen (non-Yahudi), berbahasa Arab, memiliki tingkat perekonomian yang rendah, bersimpati pada warga Palestina dan diperlakukan buruk oleh pemerintah Israel. Sedangkan di sisi lain warga Yahudi-Israel adalah bangsa keturunan Yahudi, beragama Yahudi, berbahasa Yahudi, memiliki tingkat perekonomian yang tinggi, tidak bersimpati pada warga Palestina dan diperlakukan baik oleh pemerintah Israel. Fakta-fakta ini menyebabkan warga Arab-Israel semakin hari semakin merasa bahwa mereka bukanlah anggota masyarakat Israel dan semakin merasa lebih dekat pada saudara mereka di Palestina. Ini akan menjadi suatu masalah bagi proses integrasi sentripetal Israel bahkan bisa menjadi suatu proses dis-integrasi sentripetal yang akhirnya akan memperlemah integrasi nasional Israel dan pada akhirnya memperlemah legitimasi pemerintah Israel.